Showing posts with label Geologi. Show all posts
Showing posts with label Geologi. Show all posts

Gunung Berapi

Posted by Blogger Koetai Tuesday, 16 August 2011 0 comments

Gunung berapi atau gunung api secara umum adalah istilah yang dapat didefinisikan sebagai suatu sistem saluran fluida panas (batuan dalam wujud cair atau lava) yang memanjang dari kedalaman sekitar 10 km di bawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk endapan hasil akumulasi material yang dikeluarkan pada saat meletus.



Lebih lanjut, istilah gunung api ini juga dipakai untuk menamai fenomena pembentukan ice volcanoes atau gunung api es dan mud volcanoes atau gunung api lumpur. Gunung api es biasa terjadi di daerah yang mempunyai musim dingin bersalju, sedangkan gunung api lumpur dapat kita lihat di daerah Kuwu, Purwodadi, Jawa Tengah. Masyarakat sekitar menyebut fenomena di Kuwu tersebut dengan istilah Bledug Kuwu



Gunung berapi terdapat di seluruh dunia, tetapi lokasi gunung berapi yang paling dikenali adalah gunung berapi yang berada di sepanjang busur Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Busur Cincin Api Pasifik merupakan garis bergeseknya antara dua lempengan tektonik.



Gunung berapi terdapat dalam beberapa bentuk sepanjang masa hidupnya. Gunung berapi yang aktif mungkin bertukar menjadi separuh aktif, menjadi padam, sebelum akhirnya menjadi tidak aktif atau mati. Bagaimanapun gunung berapi mampu menjadi padam dalam waktu 610 tahun sebelum bertukar menjadi aktif semula. Oleh itu, sukar untuk menentukan keadaan sebenarnya sesuatu gunung berapi itu, apakah sesebuah gunung berapi itu berada dalam keadaan padam atau telah mati.



Apabila gunung berapi meletus, magma yang terkandung di dalam kamar magmar di bawah gunung berapi meletus keluar sebagai lahar atau lava. Selain daripada aliran lava, kemusnahan oleh gunung berapi disebabkan melalui berbagai cara seperti berikut:


  • Aliran lava.

  • Letusan gunung berapi.

  • Aliran lumpur.

  • Abu.

  • Kebakaran hutan.

  • Gas beracun.

  • Gelombang tsunami.

  • Gempa bumi.










Jenis Gunung Berapi Berdasarkan Bentuknya



Stratovolcano

Tersusun dari batuan hasil letusan dengan tipe letusan berubah-ubah sehingga dapat menghasilkan susunan yang berlapis-lapis dari beberapa jenis batuan, sehingga membentuk suatu kerucut besar (raksasa), kadang-kadang bentuknya tidak beraturan, karena letusan terjadi sudah beberapa ratus kali. Gunung Merapi merupakan jenis ini.



Perisai

Tersusun dari batuan aliran lava yang pada saat diendapkan masih cair, sehingga tidak sempat membentuk suatu kerucut yang tinggi (curam), bentuknya akan berlereng landai, dan susunannya terdiri dari batuan yang bersifat basaltik. Contoh bentuk gunung berapi ini terdapat di kepulauan Hawai.



Cinder Cone

Merupakan gunung berapi yang abu dan pecahan kecil batuan vulkanik menyebar di sekeliling gunung. Sebagian besar gunung jenis ini membentuk mangkuk di puncaknya. Jarang yang tingginya di atas 500 meter dari tanah di sekitarnya.



Kaldera

Gunung berapi jenis ini terbentuk dari ledakan yang sangat kuat yang melempar ujung atas gunung sehingga membentuk cekungan. Gunung Bromo merupakan jenis ini.





Klasifikasi Gunung Berapi Di Indonesia



Tipe A 

Gunung berapi yang pernah mengalami erupsi magmatik sekurang-kurangnya satu kali sesudah tahun 1600.



Tipe B

Gunung berapi yang sesudah tahun 1600 belum lagi mengadakan erupsi magmatik, namun masih memperlihatkan gejala kegiatan seperti kegiatan solfatara.



Tipe C

Gunung berapi yang erupsinya tidak diketahui dalam sejarah manusia, namun masih terdapat tanda-tanda kegiatan masa lampau berupa lapangan solfatara/fumarola pada tingkah lemah.


Baca Selengkapnya ....

Metamorf Rock

Posted by Blogger Koetai Tuesday, 1 March 2011 0 comments
DefinitionMetamorfosisme process is a process that causes changes in mineral composition, texture and structure on the rocks because of heat and high pressure, as well as the active chemical solution. The end result of the process metamorfisme is metamorphic rock. So rocks are igneous rocks formed by processes metamorfisme on pre-existing rocks. Rock (which had existed previously) can be igneous, sedimentary and metamorphic.
Mineral composition    Compiler minerals metamorphic rocks can be divided into the minerals:
  • Cube-shaped minerals: quartz, feldsfar, calcite, garnet and piroksin.
  • Not a cube-shaped: mica, chlorite, amphiboles (hornblende), hematite, graphite and minerals talk.Susunan (Fabrik)
    From the appearance of three-dimensional, Fabrik can be divided into:
  • Isotropic: the composition of the grain in all directions look the same.
  • Anisotropic: the appearance of the composition of mineral grains are not the same in all directions.
Texture    Based on mineral grain size, can be differentiated into:
  • Fanaretik: grains large enough to be recognized with the naked eye.
  • Afanitik: grains are too small to be recognized with the naked eye.
Structure    Structures in metamorphic rocks known there are three:
  • Granular: if the grains interlock minerla related (inter-locking).
  • Foliasi: when the minerals form a series of flat surfaces subparalel.
  • Lineasi: if the minerals formed prismatic appearance at the juxtaposition of rocks, such as a pencil grip.
In nature, the rocks which have only very rarely lineasi structure, and most other berlineasi foliasi also formed. Foliasi may be irregular, curved or folded when deformed.

Baca Selengkapnya ....

Fundamental of Coal Petrology

Posted by Blogger Koetai 0 comments
Origin of Peat (Peat)The coal is generally derived from peat (peat) deposits in a swamp. Important factors in the formation of peat:
  • Evolution of floral development
  • Climate
  • Geography and regional structures
Evolution of Flora DevelopmentThe oldest coal-old from Michigan Central Hurorian derived from algae and fungi. While in the Lower and Upper Devonian era, mostly from coal Psilophites (spt: Taeniocrada decheniana (lower Devonian)). Most of the coal from this era had an average of a thin layer (3-4m) and have no economic value. In Carbon Up, plant start up high until it reaches an altitude of more than 30m but not seberagam now. In this era dominated by: Lepidodendron, Sigillaria, Leginopteris oldhamia, Calamitea. Age of the Upper Carboniferous period known as bituminous coal. Perm important layer of coal was found in the USSR, the dominant form of Gymnosperm cordaites. In the Mesozoic era mainly Jurassic and Lower Cretaceous, Gymnosperm (Ginkcophyta, Cycadophyta and Cornifers) is an important shaper of coal plants, especially in Siberia and Central Asia. In the old swamp and Upper Cretaceous Tertiary Angiosperm plants grow rapidly in N. America, Europe, Japan and Australia. When compared with the Carbon plant at the time, plants in the Mesozoic era, especially the Tertiary era more diverse and specific, and produces a thick peat deposits and diverse in type fasiesnya. The development and evolution will affect the diversity of flora and type of coal produced.


ClimateIn a warmer climate and wet plants grow faster and diverse. Layers of Carbon-old coal-rich Upper Cretaceous and Early Tertiary Top deposited in this climate. However, in the southern Hemisphere and Siberia there are also rich deposits of coal which diendapakan in moderate to cold climates, for example coal-post glacial inter PermoCarbon Gondwana (from Ganganopteris glossopteris) and Permian and Jurassic age coal of the Lower Angara konitnen. Coal layer is deposited in a warm and wet climate is usually lighter and thicker than that deposited in wet climates.

Tectonic and paleogeographic RequirementsLayer formation depends on the relationships and structures on the regional paleogeographic sedimentation. Formation of peat (peat) occur in the depressed area surface and surface water requires a relatively fixed throughout the year above or at least equal to the soil surface. This condition appears in many areas where a lot of flat coastal swamps associated with persisir beach. Besides the swamp also appeared on land (shore or Inland lakes). Depending on the original position of its geography, paralic coal deposit (sea coast) and limnic (Inland) is different.

Coal Paralic Swampy has few trees or no trees and formed outside the distal margin of the delta. Formation is the result of regression and transgression of sea water. Many large coastal Swampy growing under the protection of sand bars and pits that can produce thick deposits of coal.

Back samps natural levee formed behind the great river. At the back Swampy, peats (peat) is rich in mineral matter from flooding that often occurs. Peat deposits can only be preserved in the subsidence area. As a result, many coal-rich sediments associated with this area, as it often appears in the foredeep on a big mountain folds.

Sequence of thick sediment, where in it there is a thin layer of coal (<2m) with a large spread and the presence of marine intercalation is characteristic of the coal bed which was deposited in foredeeps of a large mountain folds. Cyclothem is looping between Inorganic sediment and peat with this sequence is often repeated.

In backdeeps part of a huge mountain folds, subsidence usually fewer and fewer number of layers of coal. When paralic coals deposited in foredeeps, most limnic coals deposited in a large continental basin. Limnic coals have character: formed in a continental graben, the number of layers slightly but each layer is very thick.

Baca Selengkapnya ....

Karst

Posted by Blogger Koetai 0 comments
Throughout the world karst landscapes vary from rolling hills dotted with sinkholes, as found in portions of the central United States, to jagged hills and pinnacle karst found in the tropics. The development of all karst landforms requires the presence of rock which is capable of being dissolved by surface water or ground water. The term karst describes a distinctive topography that indicates dissolution (also called chemical solution) of underlying soluble rocks by surface water or ground water. Although commonly associated with carbonate rocks (limestone and dolomite) other highly soluble rocks such as evaporates (gypsum and rock salt) can be sculpted into karst terrain. Understanding caves and karst is important because ten percent of the Earth’s surface is occupied by karst landscape and as much as a quarter of the world’s population depends upon water supplied from karst areas. Though most abundant in humid regions where carbonate rock is present, karst terrain occurs in temperate, tropical, alpine and polar environments. Karst features range in scale from microscopic (chemical precipitates) to entire drainage systems and ecosystems which cover hundreds of square miles, and broad karst plateaus. Although karst processes sculpt beautiful landscapes, karst systems are very vulnerable to ground water pollution due to the relatively rapid rate of water flow and the lack of a natural filtration system. This puts local drinking water supplies at risk of being contaminated. In the mid 1980’s, flooding of caves in the highly populated area of Bowling Green, Kentucky, caused industrial waste to leak into the vast system of underground fissures polluting the ground water in local wells. Due to urban expansion millions of dollars is spent annually in the United States to repair damage to roads, buildings and other structures which are built on unstable karst surfaces.

Baca Selengkapnya ....

Karst Topography

Posted by Blogger Koetai 0 comments
The degree of development of karst landforms varies greatly from region to region. Large drainage systems in karst areas are likely to have both fluvial (surface) and karst (underground) drainage components. As stated in the introduction, the term karst describes a distinctive topography that indicates dissolution of underlying rocks by surface water or ground water. Water falls as rain or snow and soaks into the soil. 
The water becomes weakly acidic because it reacts chemically with carbon dioxide that occurs naturally in the atmosphere and the soil. This acid is named carbonic acid and is the same compound that makes carbonated beverages taste tangy. Rainwater seeps downward through the soil and through fractures in the rock responding to the force of gravity. The carbonic acid in the moving ground water dissolves the bedrock along the surfaces of joints, fractures and bedding planes, eventually forming cave passages and caverns.

Limestone is a sedimentary rock consisting primarily of calcium carbonate in the form of the mineral calcite. Rainwater dissolves the limestone by the following reaction: Calcite + Carbonic acid = Calcium ions dissolved in ground water + Bicarbonate ions dissolved in ground water. Cracks and joints that interconnect in the soil and bedrock allow the water to reach a zone below the surface of the land where all the fractures and void spaces are completely filled (also known as saturated) with water. This water-rich zone is called the saturated zone and its upper surface is called the water table. The volume of void space (space filled with air or water) in soil or bedrock is termed porosity. The larger the proportion of voids in a given volume of soil or rock the greater the porosity. When these voids are interconnected, water or air (or other fluids) can migrate from void to void. Thus the soil or bedrock is said to be permeable because fluids (air and water) can easily move through them. Permeable bedrock makes a good aquifer, a rock layer that holds and conducts water. If the ground water that flows through the underlying permeable bedrock is acidic and the bedrock is soluble, a distinctive type of topography, karst topography, can be created.

The first part of our animation shows evolution of karst landforms created by downward movement of water accompanied by dissolution of rock and mass transport of sediments in stream channels. In tropical areas with thick massive limestones, a remarkable and distinctive landscape of jagged hills and narrow gorges completely dominates the landscape. Movement of solution along fractures and joints etches the bedrock and leaves limestone blocks as isolated spires or pinnacles. Pinnacles range from small features a few inches tall to intermediate forms a few feet tall to large pinnacles hundreds of feet tall. Besides the etching of pinnacles and residual hills, sheets of flowing water move down sloping surfaces creating a variety of etched surface features. Our computer animation shows the dominant landforms, such as pinnacles, cones, and towers, commonly found in the tropical karst environment of northern Puerto Rico.

Our paper model represents another type of karst landscape, that of a rolling limestone plain such as is found in south-central Kentucky, northern Florida, and the Highland Rim of central Tennessee where doline karst is the dominate feature. Doline karst is the most widely distributed type of karst landscape. The landscape is dotted with sinkholes (dolines) which can vary widely in number and size. For the Sinkhole Plain in central Kentucky, there are approximately 5.4 sinkholes per square kilometer over a 153 square kilometer area. For north Florida there are almost 8 sinkholes per square kilometer over a 427 square kilometer area (White, 1988, table 4.1, page 100). Karst topography dominated by sinkholes or dolines usually has several distinct surface features. Our paper model shows features normally associated with karst topography.

Sinkholes (also known as dolines) are surface depressions formed by either: 1) the dissolution of bedrock forming a bowlshaped depression, or 2) the collapse of shallow caves that were formed by dissolution of the bedrock. These sinkholes or shallow basins may fill with water forming lakes or ponds. Springs are locations where ground water emerges at the surface of the earth. Disappearing streams are streams which terminate abruptly by flowing or seeping into the ground. Disappearing streams are evidence of disrupted surface drainage and thus indicate the presence of an underground drainage system. Cave entrances are natural openings in the earth large enough to allow a person to enter. Caves may reflect a complex underground drainage system.

Baca Selengkapnya ....

Bowen's Reaction Series

Posted by Blogger Koetai 0 comments
Bowen found by experiment that the order in which minerals crystallize from a basaltic magma depends on temperature. As a basaltic magma is cooled Olivine and Ca-rich plagioclase crystallize first. Upon further cooling, Olivine reacts with the liquid to produce pyroxene and Ca-rich plagioclase react with the liquid to produce less Ca-rich plagioclase. But, if the olivine and Ca-rich plagioclase are removed from the liquid by crystal fractionation, then the remaining liquid will be more SiO2 rich. If the process continues, an original basaltic magma can change to first an andesite magma then a rhyolite magma with falling temperature.

Baca Selengkapnya ....

Types of Volcanic Eruptions

Posted by Blogger Koetai 0 comments
Volcanic eruptions, especially explosive ones, are very dynamic phenomena. That is the behavior of the eruption is continually changing throughout the course of the eruption. This makes it very difficult to classify volcanic eruptions. Nevertheless they can be classified according to the principal types of behavior that they exhibit. An important point to remember, however, is that during a given eruption the type of eruption may change between several different types.
  • Hawaiian - These are eruptions of low viscosity basaltic magma. Gas discharge produces a fire fountain that shoots incandescent lava up to 1 km above the vent. The lava, still molten when it returns to the surface flows away down slope as a lava flow. Hawaiian Eruptions are considered non-explosive eruptions. Very little pyroclastic material is produced.
  • Strombolian - These eruptions are characterized by distinct blasts of basaltic to andesitic magma from the vent. These blasts produce incandescent bombs that fall near the vent, eventually building a small cone of tephra. Sometimes lava flows erupt from vents low on the flanks of the small cones. Strombolian eruptions are considered mildly explosive, and produce low elevation eruption columns and tephra fall deposits.
  • Vulcanian - These eruptions are characterized by sustained explosions of solidified or highly viscous andesite or rhyolite magma from a the vent. Eruption columns can reach several km above the vent, and often collapse to produce pyroclastic flows. Widespread tephra falls are common. Vulcanian eruptions are considered very explosive.
  • Pelean - These eruptions result from the collapse of an andesitic or rhyolitic lava dome, with or without a directed blast, to produce glowing avalanches or nuée ardentes, as a type of pyroclastic flow known as a block-and-ash flow. Pelean eruptions are considered violently explosive.
  • Plinian - These eruptions result from a sustained ejection of andesitic to rhyolitic magma into eruption columns that may extend up to 45 km above the vent. Eruption columns produce wide-spread fall deposits with thickness decreasing away from the vent, and exhibit eruption column collapse to produce pyroclastic flows. Plinian ash clouds can circle the Earth in a matter of days. Plinian eruptions are considered violently explosive.
  • Phreatomagmatic - These eruptions are produced when magma comes in contact with shallow groundwater causing the groundwater to flash to steam and be ejected along with pre-existing fragments of the rock and tephra from the magma. Because the water expands so rapidly, these eruptions are violently explosive although the distribution of pyroclasts around the vent is much less than in a Plinian eruption.
  • Phreatic (also called steam blast eruptions) - result when magma encounters shallow groundwater, flashing the groundwater to steam, which is explosively ejected along with pre-exiting fragments of rock. No new magma reaches the surface.

Baca Selengkapnya ....

Volcanic Eruptions

Posted by Blogger Koetai 0 comments
Volcanic Eruptions
  • In general, magmas that are generated deep within the Earth begin to rise because they are less dense than the surrounding solid rocks.
  • As they rise they may encounter a depth or pressure where the dissolved gas no longer can be held in solution in the magma, and the gas begins to form a separate phase (i.e. it makes bubbles just like in a bottle of carbonated beverage when the pressure is reduced).
  • When a gas bubble forms, it will also continue to grow in size as pressure is reduced and more of the gas comes out of solution. In other words, the gas bubbles begin to expand.
  • If the liquid part of the magma has a low viscosity, then the gas can expand relatively easily. When the magma reaches the Earth's surface, the gas bubble will simply burst, the gas will easily expand to atmospheric pressure, and a non-explosive eruption will occur, usually as a lava flow (Lava is the name we give to a magma when it on the surface of the Earth).
  • If the liquid part of the magma has a high viscosity, then the gas will not be able to expand very easily, and thus, pressure will build up inside of the gas bubble(s). When this magma reaches the surface, the gas bubbles will have a high pressure inside, which will cause them to burst explosively on reaching atmospheric pressure. This will cause an explosive volcanic eruption.
Nonexplosive Eruptions
Non explosive eruptions are favored by low gas content and low viscosity magmas (basaltic to andesitic magmas).
  • If the viscosity is low, nonexplosive eruptions usually begin with fire fountains due to release of dissolved gases.
  • Lava flows are produced on the surface, and these run like liquids down slope, along the lowest areas they can find.
  • Lava flows produced by eruptions under water are called pillow lavas.
  • If the viscosity is high, but the gas content is low, then the lava will pile up over the vent to produce a lava dome or volcanic dome.
Explosive EruptionsExplosive eruptions are favored by high gas content and high viscosity (andesitic to rhyolitic magmas).
  • Explosive bursting of bubbles will fragment the magma into clots of liquid that will cool as they fall through the air. These solid particles become pyroclasts (meaning - hot fragments) and tephra or volcanic ash, which refer to sand- sized or smaller fragments.
  • Blocks are angular fragments that were solid when ejected.
  • Bombs have an aerodynamic shape indicating they were liquid when ejected.
  • Bombs and lapilli that consist mostly of gas bubbles (vesicles) result in a low density highly vesicular rock fragment called pumice.
  • Clouds of gas and tephra that rise above a volcano produce an eruption column that can rise up to 45 km into the atmosphere. Eventually the tephra in the eruption column will be picked up by the wind, carried for some distance, and then fall back to the surface as a tephra fall or ash fall.
  • If the eruption column collapses a pyroclastic flow will occur, wherein gas and tephra rush down the flanks of the volcano at high speed. This is the most dangerous type of volcanic eruption. The deposits that are produced are called ignimbrites if they contain pumice or pyroclastic flow deposits if they contain non-vesicular blocks.
  • If the gas pressure inside the magma is directed outward instead of upward, a lateral blast can occur. When this occurs on the flanks of a lava dome, a pyroclastic flows called a glowing avalanche or nuée ardentes (in French) can also result. Directed blasts often result from sudden exposure of the magma by a landslide or collapse of a lava dome.

Baca Selengkapnya ....

Teori Lempeng Tektonik

Posted by Blogger Koetai Monday, 17 January 2011 0 comments
Teori Tektonik Lempeng berasal dari Hipotesis Pergeseran Benua (continental drift) yang dikemukakan Alfred Wegener tahun 1912 dan dikembangkan lagi dalam bukunya The Origin of Continents and Oceans terbitan tahun 1915. Ia mengemukakan bahwa benua-benua yang sekarang ada dulu adalah satu bentang muka yang bergerak menjauh sehingga melepaskan benua-benua tersebut dari inti bumi seperti 'bongkahan es' dari granit yang bermassa jenis rendah yang mengambang di atas lautan basal yanglebih padat.

Namun, tanpa adanya bukti terperinci dan perhitungan gaya-gaya yang dilibatkan, teori ini dipinggirkan. Mungkin saja bumi memiliki kerak yang padat dan inti yang cair, tetapi tampaknya tetap saja tidak mungkin bahwa bagian-bagian kerak tersebut dapat bergerak gerak. Di kemudian hari, dibuktikanlah teori yang dikemukakan geolog Inggris Arthur Holmes tahun 1920 bahwa tautan bagian-bagian kerak ini kemungkinan ada di bawah laut. Terbukti juga teorinya bahwa arus konveksi di dalam mantel bumi adalah kekuatan penggeraknya.

Proses Terjadinya Subduksi


Bukti pertama bahwa lempeng-lempeng itu memang mengalami pergerakan didapatkan dari penemuan perbedaan arah medan magnet dalam batuan-batuan yang berbeda usianya. Penemuan ini dinyatakan pertama kali pada sebuah simposium di Tasmania tahun 1956. Mula-mula, penemuan ini dimasukkan ke dalam teori ekspansi bumi, namun selanjutnya justeru lebih mengarah ke pengembangan teori tektonik lempeng yang menjelaskan pemekaran (spreading) sebagai konsekuensi pergerakan vertical (upwelling) batuan, tetapi menghindarkan keharusan adanya bumi yang ukurannya terus membesar atau berekspansi (expanding earth) dengan memasukkan zona subduksi/hunjaman (subduction zone), dan sesar translasi (translation fault).

Pada waktu itulah teori tektonik lempeng berubah dari sebuah teori yang radikal menjadi teori yang umum dipakai dan kemudian diterima secara luas di kalangan ilmuwan. Penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara seafloor spreading dan balikan medan magnet bumi (geomagnetic reversal) oleh geolog Harry Hammond Hess dan oseanograf Ron G. Mason menunjukkan dengan tepat mekanisme yang menjelaskan pergerakan vertikal batuan yang baru.

Prinsip-prinsip Utama
Bagian luar interior bumi dibagi menjadi litosfer dan astenosfer berdasarkan perbedaan mekanis dan cara terjadinya perpindahan panas. Litosfer lebih dingin dan kaku, sedangkan astenosfer lebih panas dan secara mekanik lemah. Selain itu, litosfer kehilangan panasnya melalui proses konduksi, sedangkan astenosfer juga memindahkan panas melalui konveksi dan memiliki gradien suhu yang hampir adiabatik. Pembagian ini sangat berbeda dengan pembagian bumi secara kimia menjadi inti, mantel, dan kerak. Litosfer sendiri mencakup kerak dan juga sebagian dari mantel. Suatu bagian mantel bisa saja menjadi bagian dari litosfer atau astenosfer pada waktu yang berbeda, tergantung dari suhu, tekanan, dan kekuatan gesernya. Prinsip kunci tektonik lempeng adalah bahwa litosfer terpisah menjadi lempeng-lempeng tektonik yang berbeda-beda.

Lempeng ini bergerak menumpang di atas astenosfer yang mempunyai viskoelastisitas sehingga bersifat seperti fluida. Pergerakan lempeng biasanya bisa mencapai 10-40 mm/a (secepat pertumbuhan kuku jari) seperti di Mid-Atlantic Ridge, ataupun mencapai 160 mm/a (secepat pertumbuhan rambut) seperti di Lempeng Nazca.

Lempeng- lempeng ini tebalnya sekitar 100 km dan terdiri atas mantel litosferik yang di atasnya dilapisi dengan hamparan salah satu dari dua jenis material kerak. Yang pertama adalah kerak samudera atau yang sering disebut dengan "sima", gabungan dari silikon dan magnesium. Jenis yang kedua yaitu kerak benua yang sering disebut "sial", gabungan dari silikon dan aluminium. Kedua jenis kerak ini berbeda dari segi ketebalan di mana kerak benua memiliki ketebalan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kerak samudera. Ketebalan kerak benua mencapai 30-50 km sedangkan kerak samudera hanya 5-10 km.


Dua lempeng akan bertemu di sepanjang batas lempeng (plate boundary), yaitu daerah di mana aktivitas geologis umumnya terjadi seperti gempa bumi dan pembentukan kenampakan topografis seperti gunung, gunung berapi, dan palung samudera. Kebanyakan gunung berapi yang aktif di dunia berada di atas batas lempeng, seperti Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) di Lempeng Pasifik yang paling aktif dan dikenal luas.

Baca Selengkapnya ....

Manfaat di Balik Gempa Bumi

Posted by Blogger Koetai Tuesday, 21 December 2010 0 comments
Gempa yang memicu tsunami, longsor, dan aktivitas volkanik ternyata punya sisi positif.
Gempa bumi, atau istilah lainnya adalah quake, tremor, atau temblor merupakan fenomena pelepasan secara tiba-tiba energi yang ada di kerak bumi yang mengakibatkan gelombang seismik yang skalanya diukur dengan seismograf. Semakin tinggi magnitudonya, semakin parah guncangan akibat pergeseran kerak bumi itu.



Di permukaan bumi, gempa muncul dengan wujud guncangan dan terkadang menggeser tanah. Jika pusat gempa terjadi di lepas pantai, dasar laut kadang mengalami pergeseran yang cukup besar yang dapat menyebabkan tsunami. Guncangan gempa juga bisa memicu tanah longsor dan kadang menghidupkan kembali aktivitas gunung volkanik.

Meski demikian, gempa bumi bukanlah fenomena yang mengerikan saja. Ternyata, menurut Hugh Ross, astrofisikawan asal Royal Astronomical Society, Montreal, Kanada, ada manfaat lain yang ditimbulkan oleh gempa bumi.

“Apakah kita membutuhkan gempa bumi? Jawabannya adalah, Ya,” kata Ross, seperti dikutip dari CosmicFingerprints, 17 Desember 2010. “Tanpa adanya gempa bumi atau aktivitas lempeng tektonik, nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan di atas tanah akan terkikis dari benua dan terkumpul di samudera,” kata Ross.

Setelah beberapa waktu tanpa gempa bumi, kata Ross, kehidupan akan semakin sulit di daratan, meski kehidupan di lautan masih berjalan dengan normal.

“Berkat aktivitas gempa bumi, nutrisi dan mineral-mineral lain yang terkandung di samudera bisa didaur ulang ke permukaan benua,” kata Ross. “Kita dapat melihat dengan jelas jumlah dan intensitas gempa yang terjadi yang dapat menjaga siklus daur ulang itu. Akan tetapi, bagi kita yang tinggal di perkotaan, dampaknya tidak terlalu terasa,” ucapnya.


Baca Selengkapnya ....

Struktur Geologi Kekar dan Sesar

Posted by Blogger Koetai Monday, 8 November 2010 0 comments
Struktur geologi yang banyak diungkap berperan pada bencana geologi adalah kekar dan sesar. Kekar (joint) secara sederhana dikatakan sebagai rekahan berbentuk teratur pada masa batuan yang tidak menampakkan (dilihat dengan mata telanjang) telah terjadi pergeseran pada kedua sisi-sisinya.


Secara umum dibedakan menjadi empat (McClay, 1987), yaitu kekar tarik (rekahan yang membuka akibat gaya ekstensi yang berarah tegak lurus terhadap arah rekahan), kekar gerus (biasanya berpasangan merupakan suatu set dan lurus, terdapat pergeseran yang diakibatkan oleh gaya kompresi), kekar hibrid (berkenampakan sebagai kekar gerus yang membuka, kombinasi antara kekar gerus dan kekar tarik), dan kekar tarik tak beraturan (arah kekar tak beraturan, sering merupakan akibat hydraulic fracturing). Kehadiran kekar pada batuan dapat meningkatkan porositas batuan, sehingga mampu menyimpan air (sebagai aquifer) ataupun hidrokarbon (seabagai reservoir), sebaliknya juga memperlemah kekuatan batuan. Kehadiran kekar di dekat permukaan juga dapat mempercepat proses pelapukan batuan.

Sesar / patahan (fault) yang dikenal juga sebagai patahan adalah rekahan pada masa batuan yang telah memperlihatkan gejala pergeseran pada ke dua belah sisi bidang rekahan (Simpson, 1968). Berdasar kinematikanya, secara garis besar, dibedakan menjadi sesar turun, sesar naik, dan sesar geser. Sesar yang dimaksud adalah pergeseran yang disebabkan oleh gaya tektonik.


 
Jenis sesar berdasarkan aktivitasnya
Berkaitan dengan dinamika kerak bumi dan rentang waktu geologi yang panjang, kehadiran sesar dapat dibedakan menjadi sesar mati dan sesar aktif. Sesar mati adalah sesar yang sudah tidak (akan) bergerak lagi, sedangkan sesar aktif adalah sesar yang pernah bergeser selama 11.000 tahun terakhir dan berpotensi akan bergerak di waktu yang akan datang (Yeats, Sieh & Allen, 1997). Sesar aktif dikenal pula sebagai bagian dari peristiwa gempa bumi. Peristiwa gempa bumi bisa menimbulkan sesar di permukaan (surface faulting) sebagai kemenerusan apa yang terjadi di dalam kerak bumi (Scholz, 1990) ataupun tidak menghasilkan sesar di permukaan. Hal ini tampak jelas seperti apa yang terjadi pada gempa bumi di Liwa pada tahun 1994 yang memberikan sesar di permukaan (Pramumijoyo & Natawidjaja, 1994) dan di Yogyakarta tahun 2006 yang tidak jelas kenampakannya di permukaan, yang keduanya merupakan sesar geser. Demikian juga peristiwa gempa bumi di Aceh tahun 2004, telah terjadi pensesaran naik di dasar laut, sehingga mampu membangkitkan gelombang pasang tsunami yang mengakibatkan ratusan ribu korban jiwa dan kehancuran pemukiman di beberapa kota.

Panjang, lebar dan pergeseran suatu sesar tektonik saat gempa bumi sangat bervariasi. Di Amerika dilaporkan bahwa pergeseran sesar bisa mencapai lebih dari 20 kaki, panjang pensesaran bisa mencapai lebih dari 200 mil dengan lebar zona pensesaran bervariasi dari 6 sampai dengan 1000 kaki dan zona pensesaran ini bisa mencapai jarak 3 mil dari sesar utamanya (Hays, 1981).

Saat gempa bumi Liwa 1994, ditemui beberapa kerusakan rumah akibat tanah longsor sebagai peristiwa penyerta gempa bumi. Di samping itu dilaporkan bahwa sebuah rumah yang dilewati suatu rekahan/sesar sepanjang 300 m dengan pergeseran kurang dari 5 cm, telah roboh, sedangkan bangunan di sampingnya dengan bahan dan konstruksi serupa yang tidak dilewati rekahan tidak mengalami kerusakan sama sekali (Pramumijoyo & Natawidjaja, 1994).



Baca Selengkapnya ....

Proses Pembentukan Minyak Bumi dan Gas Bumi

Posted by Blogger Koetai Monday, 18 October 2010 0 comments

Pemahaman tentang minyak dan gas bumi yang berasal dari material organik telah memberikan gambaran umum tentang bagaimana materi organik yang berasal dari tanaman diubah menjadi hidrokarbon. Meskipun proses perubahannya sangat rumit untuk dijelaskan, dan masih banyak hal-hal yang masih kurang dipahami, saat ini diketahui bahwa zat organik yang berasal dari tanaman dan ganggang diawetkan dengan baik apabila berada dalam sedimen halus tanpa kehadiran oksigen. Suhu rendah reaksi kimia dan biologi (disebut diagenesis) yang terjadi selama pengangkutan dan penguburan dini dalam lingkungan pengendapan merubah bahan organik. Sebagian besar senyawa kimia hadir dalam sedimen sebenarnya berasal dari bakteri, dan terbentuk sebagai bahan organik mati yang diubah menjadi jaringan mikroba.


Sebagian besar bahan organik mengalami perubahan selama diagenesis menjadi molekul-molekul yang berukuran besar, yang disebut kerogen. Kerogen berperan penting dalam penentuan asal-usul minyak dan gas bumi. Tahap awal pembentukan hidrokarbon terjadi selama proses diagenesis. mikroorganisme tertentu, yang disebut metanogen mengubah material organik menjadi metana biogenik. Adanya pembentukan metana biogenik telah cukup lama diketahui, namun hanya dalam beberapa tahun terakhir ini kita menyadari bahwa di berbagai daerah di Indonesia cadangan gas alam dapat berupa gas biogenik.

Seiring dengan bertambahnya kedalaman burial, porositas dan permeabilitas batuan akan berkurang, dan suhu akan meningkat. Perubahan ini menyebabkan berhentinya aktivitas mikroba secara bertahap, dan pada akhirnya diagenesis organik akan berhenti. Seiring dengan peningkatan suhu, reaksi termal menjadi semakin penting. Selama fase perubahan kedua yang disebut katagenesis ini, kerogen mulai terurai menjadi molekul yang lebih kecil dan lebih mobile. Pada tahap awal katagenesis, sebagian besar molekul yang dihasilkan dari kerogen masih relatif besar; ini adalah bentuk awal minyak bumi, dan disebut aspal. Pada tahap akhir katagenesis dan dalam tahap akhir, yang disebut metagenesis, produk utama terdiri dari molekul gas yang lebih kecil.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, gambaran pembentukan hidrokarbon yang relatif sederhana menjadi sedikit lebih rumit dengan bertambahnya pengetahuan tentang kerogens yang dapat terbentuk dari berbagai jenis bahan organik, atau dalam kondisi diagenesis yang berbeda-beda secara kimiawi. Perbedaan ini dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap generasi hidrokarbon.

Setelah terbentuk, molekul minyak dan gas dapat bermigrasi dari batuan induk ke carrier beds yang lebih permeabel. Migrasi melalui carrier beds ini sering mengarah ke perangkap, di mana proses migrasi berhenti dan terjadi akumulasi hidrokarbon.






Baca Selengkapnya ....

Klasifikasi Batuan Karbonat

Posted by Blogger Koetai 0 comments

Dua dari klasifikasi batuan karbonat yang sering digunakan adalah klasifikasi Folk(1958, 1962) dan Dunham(1962). Keduanya membagi klasifikasi batugamping berdasarkan kandungan matriksnya.

Batugamping yang memiliki lebih dari 10% allochems (butiran karbonat yang telah mengalami transportasi) diklasifikasikan dengan klasifikasi Folk. Berdasarkan persentase material antar butir, batugamping dapat dibedakan lagi menjadi dua kelompok, yaitu batugamping sparry (mengandung semen sparry calcite berupa mozaik kristal kalsit berukuran kasar) dan batugamping mikrokristalin (mengandung kalsit mikrokristalin, mikrit, yang berwarna abu-abu hingga kecoklatan berukuran kecil dari 5 mikron).

Klasifikasi Folk lebih cocok digunakan pada deskripsi sayatan (thin section). Hal yang perlu diingat adalah dalam klasifikasi ini, batugamping yang memiliki matriks cukup banyak dinamakan micrites, sedangkan batugamping yang tidak memiliki matriks dan tersusun atas semen kalsit (sparry calcite) disebut sparites. Untuk lebih jelasnya, klasifikasi Folk dapat dilihat pada gambar dibawah ini.



Berbeda dengan Folk, klasifikasi Dunham dan modifikasinya oleh Embry & Klovan (1971), dan James (1984) lebih berdasarkan pada tekstur pengendapan. Oleh sebab itu klasifikasi ini lebih cocok digunakan pada pengamatan lapangan menggunakan lup. Sebagai contoh, jika butiran batugamping saling bersentuhan, dan tidak mengandung mud, maka batugamping tersebut termasuk grainstone. Jika batugamping grain supported tetapi mengandung sedikit mud, maka dinamakan packstone. Jika batugamping mud supported tetapi mengandung butiran lebih dari 10%, maka dinamakan wackestone, dan batugamping mud supported mengandung butiran kurang dari 10% dinamakan mudstone. Klasifikasi Dunham dapat dilihat pada gambar dibawah ini.



Jika dibandingkan antara dua klasifikasi diatas, batugamping yang banyak mengandung mud disebut micrite dengan klasifikasi Folk, dan dapat termasuk mudstone atau wackestone dengan klasifikasi Dunham.

Batuan yang memiliki sedikit matriks dinamakan sparite dengan klasifikasi Folk, dan termasuk grainstone atau packstone dengan klasifikasi Dunham.

Embry dan Klovan memodifikasi klasifikasi Dunham dengan memasukkan batuan karbonat berukuran kasar (lihat gambar di bawah). Pada modifikasi mereka, wackestone yang memiliki ukuran butir lebih dari 2 milimeter disebut floatstone, sedangkan grainstone dengan butiran yang kasar disebut rudstone.




Baca Selengkapnya ....

Source Rock Evaluation

Posted by Blogger Koetai Monday, 4 October 2010 0 comments

There are many reasons and ways for source rock evaluation methods, to obtain petroleum and other gases or oils and countless ways to extract these items.

As rocks are obviously buried, the contained organic matter is heated or matured within the Earth’s geothermal gradient, to generate petroleum. The thermal level of maturity for source rocks is consequently a basic and critical parameter in assessing petroleum prospectively of exploration acreage.

They hydrocarbon potential of a source rock comprising insoluble organic materials, capable of generating hydrocarbons upon pyrolysis and regular hydrocarbons or further maturation is analytically determined. In the instant invention, a particulate sample of the source rock is slurred with a solvent to extract the hydrocarbons there form and provide a first solution for analysis.

Then the extracted sample is again slurred with a solvent and the resulting slurry is heated to a temperature sufficient to pyrolyze the insoluble organic material to liquid hydrocarbons. They liquid hydrocarbons dissolve in the solvent to provide a second solution for analysis. The two solutions are then analyzed independently for hydrocarbon content.

Originating from organic material in rocks, petroleum and the capacity of organic matter to have developed oil or gas in the past can be inferred in part from the organic material and its present degree of thermal maturity.

Groundbreaking analyses of the Early Cretaceous foundation rocks in the Otway Basin has exposed a thick, mature; organic-rich source rocks containing gas- and oil-prone marcerals exist to the Northwest of Portland in the Tyrendarra Embayment and around the Prot Campbell region. The sampling opportunities for source rock evaluation are geographically and stratigraphically imperfect because only a small portion of the onshore Victorian Otway Basin is deeply drilled.

Biomarker analyses designate that gas-prone marcerals are the most abundant and wide-spread. Oxic, open plain and shallow lacustrine environment conditions prevailed over most of the Northern areas. By dissimilarity, deeper water plummeting conditions prevailed in the Southern and North-Western marginal areas.

Progenitor hydrocarbon materials are predominantly asphaltic/aromatic but in some locations, the organic contents contain more paraffinic and naphthenic compounds. In addition, hydrocarbon generative potential ranges from excellent to poor; and the liquid hydrocarbons are present in some of the deep shale’s.

Several of the hydrocarbons that were migrated and generated in the Portland region and in the Port Campbell region, were most likely pooled in existing stratigraphic traps.  

Most structural traps were formed during the Palaeocene uplift event in the Portland region and during the Oligocene uplift event in the Port Campbell region. These structural traps, particularly those in the Port Campbell Embayment, have been loaded by the continuing oil and gas generation and expulsion form the Aptian-Albian source rock.

Despite the lack of state-wide sampling opportunities, analytical results suggest that the most prospective areas for oil and gas – so far as close proximity of reservoir and seal rocks to thick, rich mature source rock is concerned – are within the Casterton and Lindon to Pine Lodge regions, in the Portland/Tyrendarra Embayment and between Peterborough and Port Campbell offshore and along from the present Victorian coastline.

Many companies, for a price, will provide evaluations of petroleum source rocks. They use organic carbon content, hydrocarbon content, kerogen maceral analysis, visual kerogen and vitrinite reflectance.

Baca Selengkapnya ....

Tips on Finding Geology Internships

Posted by Blogger Koetai 0 comments
Geological societies, science clubs, and even museums offer geology internships to promising students across the U.S. To find the right internship, you just have to know where to look, the organization’s requirements and expectations, and when to apply.
Purpose of an Internship

An internship is one of the best ways for students to gain hands-on job experience before graduating from college. The purpose of an internship is to train and help students develop skills related to their career field. Internships are not staff positions, so most are unpaid. Paid internships do exist, but they are extremely competitive and uncommon in today’s economy.

If you are planning to apply for a paid internship, your grades and academic record must place you at the top of your class. In many cases, unpaid internships may require the same standards, so bring your ‘A’ game.
Finding Geology Internships

When searching for geology internships, the first place to look is your career center or career coordinator’s office. Your career coordinator will have listings for internship opportunities in your local area, across the U.S., and abroad. While your career center can be a valuable tool in your search, it is not the only tool. Your career center also assists the hundreds of other students seeking an internship, so you will have to do some digging on your own.

The next stop in your search should be school clubs. Check with your school’s geology club, scientific field club, or other relative clubs for prospects. Visit each office for details. To broaden your search, visit your state or local geological society website or office (where possible). To locate your local or state geological society, use your favorite search engine. Simply enter your location + “geological society” for official web addresses.

Do not hesitate to visit geological societies in other states or the U.S. Department of Interior Geological Survey (USGS) at http://www.usgsgov. Remember, some internship’s may last the entire school year, while others may last for one summer only. If you don’t mind spending the summer in another state or even abroad, flexibility might help you secure a geology internship even faster. Use the same steps to locate other state geological societies.

Geology Internships: Councils, Societies, and Institutes
Internship opportunities are plentiful through various councils, societies, and institutes. You may browse through an extensive list of opportunities at the official Washington and Lee University Department of Geology at http://geology.wlu.edu/intern.html. The following is just a preview of WLU’s list.

National Council for Science and the Environment
http://www.ncseonline.org/Jobs/

Geological Society of America Internship Information
http://www.geosociety.org/profdev/

National Air and Space Museum Summer Internships
http://www.nasm.si.edu/getinvolved/intern/

Lunar and Planetary Institute
http://www.lpi.usra.edu/lpiintern/index.shtml

National Energy Technology Laboratory Professional Internship Program
http://see.orau.org/ProgramDescription.aspx?Program=10046

There are a number of online and offline sources for internship opportunities that offer hundreds of listings and contact information. It is perfectly fine to submit a letter of interest and any relative credentials to companies that do not advertise for internships. Some might be willing to extend an offer if they like what they see. If possible, pick up a copy of The Internship Bible, Peterson's Internships, or The Best 109 Internships. For used or discounted copies (either will get the job done), try Amazon.com.

To narrow your online search, stick to recognized names in and reliable websites such as:
  • www.idealist.org (excellent for internships with environmental groups and other non-profits)
  • www.internshipprograms.com
  • www.internabroad.com
  • www.volunteerinternational.org (volunteer opportunities abroad)

Tip: If you come across s site or source you do not recognize or the source requests a small “fee” to deliver a list of internships or to access the website, please research the source. If you cannot find a working phone number, a physical address (not a P.O. Box), or any information online about the source, chances are it is not a reputable source. Please visit The Riley Guide for tips on avoiding scams at http://www.rileyguide.com/scams.html.


References

United States Department of Interior Geological Survey
http://www.usgs.gov/

The College Board, not-for-profit
http://www.collegeboard.com

The University of North Florida
http://www.unf.edu

Washington and Lee University, Department of Geology
http://geology.wlu.edu/intern.html

Baca Selengkapnya ....

Cara Menghitung Luas (Diketahui Koordinatnya Saja)

Posted by Blogger Koetai Monday, 27 September 2010 0 comments
Nah, dalam bagian ini, kita akan mengulas soal SD lagi... Kita hanya disuruh menghitung luas bangun datar yang digambar dalam bidang cartesius. akan tetapi yang diketahui hanya titik-titik koordinatnya saja..

Contoh soal 1:
Hitunglah luas bangun berikut!
Segitiga
Jawab (cara Anak SD):
Sebelumnya, kita namakan dulu titik-titiknya, biar kita ga bingung...
Mis: A (3,0); B(0,3); dan C (6,8).

Nah, kalau kalian berpikir cara seperti di bawah ini berarti kalian sudah lumayan lah:
beri nama pada titik
Luas segitiga ABC = Luas persegi panjang - Luas daerah I - Luas daerah II - Luas daerah III
______________= 6*8 - (1/2)*3*3 - (1/2)*3*8 - (1/2)*5*6
______________= 48 - (4,5) - 12 - 15
______________= 16,5 satuan luas.

Jawab (Cara profesional!!)
Yap, seperti sebelumnya.. Sebaiknya namakan dulu titik-titiknya.. Mis: A (3,0); B(0,3); dan C (6,8).
Lalu, tentukan setiap titik yang mengelilingi bangun tersebut. Misalnya, dimulai dari titik A, ke B, ke C, lalu kembali ke A.
A__ 3 0
B__ 0 3
C__ 6 8
A__ 3 0
(Note: titik awal dan titik akhir selalu sama, karena bangun tersebut adalah bangun tertutup)
Lalu, tinggal melakukan operasi perkalian yang menyilang. (Perhatikan bagian ini baik-baik)
Kali silang
Bagian yang berwarna hijau hanya berfungsi untuk memperjelas saja.. Silakan dilihat bagaimana angka 16,5 diperoleh.. Hanya dengan melakukan perkalian silang, penjumlahan, pengurangan, lalu hasilnya dibagi 2...
Dengan cara ini, silakan bertanding dengan teman-teman kalian untuk bisa menemukan luas daerah yang lebih cepat, maka kamulah pemenangnya.... Ha3..


Contoh Soal 2:
Hitunglah luas bangun segiempat ABCD, diketahui A(3,5), B(5,7), C(3,0), dan D(0,5)!

Jawab:
Setelah digambar sketsanya, kira-kira seperti berikut:
Hitung Luas ABCD
Nah, kita pake 2 cara supaya lebih yakin....
Cara anak SD:
Luas ABCD = Luas ACD +Luas ABC = (1/2).3.5+(1/2).2.5 = 12,5 satuan luas

Cara Profesional:
kali silang
Contoh Soal 3:
Hitunglah luas bangun datar ABCDEFG yang dikelilingi oleh titik-titik berikut:
A(23,1), B(27,-5), C(24,-7), D(22,-4), E(19,-5), F(21,-2), dan G(23,-2)

Jawab:
Jelas, ini harus memakai cara yang kedua (cara profesional).. Namun, begitu melihat angkanya pasti sudah pusinkk.. Tapi, justru di sinilah triknya.. Kita bisa mentranslasikan semua titiknya sehingga perhitungan bisa lebih mudah (mengingat kalau translasi tidak akan mempengaruhi luas).
_____Gunakan translasi (-19,7). (Alasannya supaya semua titik berada pada kuadran 1, yang paling dekat dengan sumbu x dan sumbu y..)

Setelah ditranslasi (-19,7), maka sekarang titik-titiknya menjadi:
A(4,8), B(8,2), C(5,0), D(3,3), E(0,2), F(2,5), dan G(4,5)

Lakukan cara seperti biasa:
kali silang



Ok kan...



Kembali ke daftar isi

Baca Selengkapnya ....

Fosil Geologi

Posted by Blogger Koetai Saturday, 25 September 2010 0 comments
Mempelajari evolusi tidak bisa meninggalkan fosil. Dahulu teori evolusi banyak diuji dengan melihat fosil-fosil yang merupakan peninggalan makhluk hidup pada masa lalu. Bahkan ada kasus pemalsuan fosil (piltdown case), karena saking pentingnya fosil dalam pengujian teori evolusi ini. Tetapi perlu diketahui juga bahwa Charles Darwin ketika membuat buku “the origin of species” tidak diawali dengan fosil namun lebih banyak memanfaatkan fenomena burung-burung di Galapagos. Perkembangan teori evolusi saat ini sudah menggunakan bermacam-macam metode mutahir, tetapi jelas tidak hanya kearah masa kini dengan menafaatkan DNA saja. Fosil masih merupakan alat terbaik dalam mempelajari, mengkaji, dan menguji teori evolusi.

Apa sih sebenernya fosil itu ? Apa saja jenisnya, bagaimana terbentuknya ?
Paleontologi adalah cabang ilmu geologi yang mempelajari fosil. Seluk beluk fosil dipelajari oleh seorang paleontologist. Fosil sendiri adalah jejak kehidupan masa lalu.

Banyak yang mengira kalau ketemu fosil dinosaurus itu berupa tulang yang utuh, namun sebenernya yang sering ditemukan itu hanyala bagian dari tulang, atau tulang-tulang yang berserakan. Dibawah ini terlihat fosil-fosil dari bebrapa binatang. Ada yg berupa fosil “agak utuh” ada juga yang hanya sepotong saja.

Menurut paleontologist (ahli paleontologi) ada macam macam fosil tetapi secara umum ada tiga macam jenis fosil yg perlu diketahui: – Yaitu bagian dari organisme itu sendiri, Sisa-sisa aktifitasnya, juga ada fosil palsu (yaitu bentuknya mirip fosil tetapi sebenarnya bukan).

1. Organisme itu sendiri
Tipe pertama ini adalah binatangnya itu sendiri yang terawetkan/tersimpan. Dapat beruba tulangnya, daun-nya, cangkangnya, dan hampir semua yang tersimpan ini adalah bagian dari tubuhnya yang “keras”.

Dapat juga berupa binatangnya yang secara lengkap (utuh) tersipan. misalnya Fosil Mammoth yang terawetkan karena es, ataupun serangga yang terjebak dalam amber (getah tumbuhan).
Petrified wood atau fosil kayu dan juga mammoths yang terbekukan, and juga mungkin anda pernah lihat dalam filem berupa binatang serangga yang tersimpan dalam amber atau getah tumbuhan. Semua ini biasa saja berupa asli binatang yang tersimpan.

2. Type kedua adalah sisa-sisa aktifitasnya

Secara mudah pembentukan fosil ini dapat melalui beberapa jalan, antara lain seperti yang terlihat dibawah ini. Fosil sisa aktifitasnya sering juga disebut dengan Trace Fosil (Fosil jejak), karena yang terlihat hanyalah sisa-sisa aktifitasnya. Jadi ada kemungkinan fosil itu bukan bagian dari tubuh binatang atau tumbuhan itu sendiri.
Penyimpanan atau pengawetan fosil cangkang ini dapat berupa cetakan. Namun cetakan tersebut dapat pula berupa cetakan bagian dalam (internal mould) dicirikan bentuk permukaan yang halus, atau external mould  dengan ciri permukaan yang kasar. Keduanya bukan binatangnya yang tersiman, tetapi hanyalah cetakan dari binatang atau organisme itu. Jadi tentusaja dapat berasal dari tumbuhan juga kan ?
Gambar diatas menunjukkan bagaimana sebuah cangkang dapat terekam. Pada gambar paling atas menunjukkan sebuah cangkang dan potongan dari sebuah cangkang doble (bivalve) dipotong melintang.

Waktu kecil dulu saya suka sekali main “wass” atau plasticine, itu tuh lilin yang dapat dipakai untuk membuat bentuk aneh-aneh. Nah plasticine atau lilin ini bisa dipakai untuk mencetak atau bermain membuat fosil buatan :D …. Caranya ?
Cari saja kerang-kerang di pantai.
Buat cetakannya dengan wass atau lilin ini. Kemudian cetakan ini dapat dipakai untuk mencetak lagi, dan seterusnya. Dengan demikian kita dapat belajar bagaimana fosil-fosil tercetak, tersimpan, dan terawetkan.

Nah, tahukah mengapa kita sulit menemukan fosil ubur-ubur (jely fish) ?
Jejak lintasan kakinya yang melangkah juga menunjukkan bagaimana binatang ini beraktifitas, apakah suka berlari ataukan suka berjalan pelan-pelan. Nah siapa yang paling ahli dalam melihat fosil jejak ? Jawabnya pemburu atau hunter. Para pencari jejak ini sering diajak oleh paleontologist untuk melihat jejak-jejak kaki binatang untuk memperkirakan bagaimana cara binatang ini bergerak.

Coba sekarang tengok dibawah ini bagaimana aktifitas dari binatang yang memiliki jejak seperti ini ?
Gambar 1
Gambar 2
Ada yang tahu ? Gambar no 2 ini dijumpai pada batuan berumur 505 juta tahun yang lalu. Bagaimana gerakan binatang yang jejaknya terekam ini ?

QUIZ coba jawab …

Sumber

Kembali Ke daftar isi

Baca Selengkapnya ....

Sesar Mendatar (Strike Slip)

Posted by Blogger Koetai Friday, 10 September 2010 0 comments

Pergerakan strike-slip/ pergeseran dapat terjadi berupa adanya pelepasan tegasan secara lateral pada arah sumbu tegasan normal terkecil dan terdapat pemendekan pada arah sumbu tegasan normal terbesar. Sesar ini dapat dinamakan sesar transcurrent oleh Anderson pada tahun 1951, yang berkembang menjadi wrench fault (oleh Kennedy). Flaws dan tear faults juga merupakan nama lain dari sesar mendatar. Lipatan dan thrust diakibatkna oleh suatu bidang tegasan sebelumnya dan berbeda atau rezim yang sebelumnya membentuk wrench fault. Sembu lipatan dan thrust kemudian terpotong oleh sesar wrench dimana sumbu lipatan dan thrust ini berada pada arah sumbu tegasan normal menengah dari orientasi tegasan sebelumnya dimana relief tegasan ke arah atas dan tidak berdampingan seperti pada rezim wrench terakhir. Perubahan rezim tegasan seperti ini biasa terdapat di mountain-built belts sebagai bentukan orogenik seperti yang ditemukan di sesar Semangko di Sumatra.

Umumnya pada sesar geser mendatar, sepanjang jejaknya bergeometri panjang, lurus atau lengkung yang cenderung berdaerah lebar dengan kecuraman yang beragam. Lebarnya jalur penggerusan ini mencapai beberapa ratus ribu meter diatas permukaan. Biasanya terdapat struktur penyerta yang khas dalam sesar ini seperti rekahan, lipatan (umumnya lipatan merencong atau en echelon fold), dan struktur bunga. Struktur penyerta ini umumnya pertama kali tebentuk dan sejajar dengan poros panjang elips keterakan dimana pada jalur-jalur sesar mendatar terjadi proses yang di bagian dalam batuan dasarnya akan terlibat sesar mendatar ke atas melalui sedimen-sedimen tertutup. Pada sesar ini, jalurnya teranyam dengan gouge atau mylonite dan gores-gores garisnya horizontal yang diikuti oleh sembul dan terban yang tidak sistematis. Jenis lipatan-lipatan seretan yang menujam ataupun tataan stratigrafi yang saling menindaih dan tidak sama merupakan ciri lainnya. Selain itu, nyatanya sesar ini merupakan jalur yanh peka terhadap erosi.

Jenis sesar jurus mendatar dibedakan dengan sesar transform. Sesar transform ini sendiri diartikan sebagai sesar yang tegaknya berakhir secara mendadak pada bentuk struktur lainnya dan umumnya terjadi di pematang samudra dengan cara memotong pematang dan menggesernya dengan arah mendatar yang berlawanan dengan arah pergeseran pematang (slip dan separation berlawanan arah). Pergeseran yang terjadi sepanjang pematang ini biasanya tetap konstan walaupun slip terus berjalan, tetapi slip dapat berakhir secara tiba-tiba pada ujung pematang. Hasil deformasi yang dihasilkan oleh sesar ini hanya menimbulkan sedikit deformasi pada lempeng yang mengakibatkan kegempaan yang terjadi hanya sebagian dengan diiringi pergerakan lempeng yang sejajar terhadap arah transform.

Sesar jurus-mendatar ini dibedadakan dari sesar transform berdasarkan beberapa kejadian. Sesar ini adalah sesar dengan pergerakan sejajar dimana blok bagian kiri relatif bergeser kearah yang berlawanan dengan blok bagian kanannya. Berdasarkan arah pergerakan sesarnya, sesar mendatar dapat dibagi menjadi 2 (dua) jenis sesar, yaitu: (1). Sesar Mendatar Dextral (sesar mendatar menganan) dan (2). Sesar Mendatar Sinistral (sesar mendatar mengiri). Sesar Mendatar Dextral adalah sesar yang arah pergerakannya searah dengan arah perputaran jarum jam sedangkan Sesar Mendatar Sinistral adalah sesar yang arah pergeserannya berlawanan arah dengan arah perputaran jarum jam. Pergeseran pada sesar mendatar dapat sejajar dengan permukaan sesar atau pergeseran sesarnya dapat membentuk sudut (dip-slip / oblique). Sedangkan bidang sesarnya sendiri dapat tegak lurus maupun menyudut dengan bidang horisontal. Sesar jurus-mendatar ini biasa terjadi di kerak benua dimana selama pergerakannya menghasilkan slip dan separation dengan arah yang sama dimana pergeseran akan meningkat dengan meningkatnya slip fan oergerakannya berlangsung secara ellipsoid dimana arahnya menyilang dari arah transform. Berbeda dengan sesar transform, sesar jenis ini menghasilkan banyak deformasi yang mengakibatkan tingginya unsur kegempaan pada setiap batas sesar atau pada ujung sesar.


Baca Selengkapnya ....