Showing posts with label bangunan. Show all posts
Showing posts with label bangunan. Show all posts

Sejarah Semen

Posted by Blogger Koetai Monday, 18 July 2011 0 comments
Konon, pada zaman Kerajaan Romawi Kuno, semen dihasilkan dari mencampur batu kapur dengan abu vulkanis dari gunung berapi. Ramuan semen yang dinamai pozzuolana ini ditemukan di daerah Pozzuoli, Italia. 

Sejak kerajaan Romawi runtuh, sekitar tahun 1100 – 1500, ramuan semen ini hilang ditelan bumi. Setelah itu, perkembangan semen di masing-masing negara berbeda-beda. Di Inggris, sekitar tahun 1700-an Masehi, seorang ahli teknik bangunan dari Inggris, John Smeaton, kembali menemukan ramuan ini. Lalu ia mencoba adonan semen baru yang memanfaatkan batu kapur dan tanah liat, dan diaplikasikan ketika ia membangun sebuah menara. 

Namun sayang, hasil ramuan ini tidak lantas dipatenkan oleh Smeaton. Yang mematenkan justru orang lain, seorang ahli teknik yaitu Joseph Aspdin tahun 1824. Nama patennya adalah Semen Portland. Penamaannya dibuat seperti ini karena warna hasil akhir olahannya mirip tanah di Pulau Portland, Inggris. Ramuan semen Portland inilah yang sekarang banyak diaplikasikan oleh produsen. Ada 8 tipe semen yang kini dikenal yaitu : Portland Tipe I hingga V, Super Mansory Cement, Portland Pozzolan Cement, dan Oil Well Cement.


Baca Selengkapnya ....

Pedoman untuk Pemilihan Tembok dalam Teknik Sipil

Posted by Blogger Koetai Saturday, 6 March 2010 0 comments
Ini merupakankelebihan dan kekurangan isi dari tembok anda. 
1. Batu Bata.
Batu bata merah dibuat dari tanah liat yang dicetak, kemudian dibakar. Tidak semua tanah lihat bisa digunakan. Hanya yang terdiri dari kandungan pasir tertentu.
Umumnya memiliki ukuran: panjang 17 – 23 cm, lebar 7 – 11 cm, tebal 3 – 5 cm.

Berat rata-rata 3 kg/biji (tergantung merek dan daerah asal pembuatannya).

Kelebihan dinding bata merah:
  •  Kedap air, sehingga jarang terjadi rembesan pada tembol akibat air hujan
  •  Keretakan relatif jarang terjadi.
  •  Kuat dan tahan lama.
  •  Penggunanaan rangka beton pengakunya lebih luas, antara 9 – 12 m2. 

Kekurangan dinding bata merah:
  • Waktu pemasangan lebih lama dibandingkan batako dan bahan dinding lainnya.
  •  Biaya lebih tinggi.

2. BATAKO PUTIH (TRAS) 

Batako putih dibuat dari campuran tras, batu kapur, dan air. Campuran tersebut dicetak, lalu dibakar. Tras merupakan jenis tanah berwarna putih / putih kecoklatan yang berasal dari pelapukan batu-batu gunung berapi.

Umumnya memiliki ukuran panjang 25 – 30 cm, tebal 8 – 10 cm, dan tinggi 14 – 18 cm.

Kelebihan dinding batako putih:
  • Pemasangan relatif lebih cepat.
  • Harga relatif murah.

Kekurangan dinding batako putih:
  • Rapuh dan mudah pecah.
  • Menyerap air sehingga dapat menyebabkan tembok lembab.
  • Dinding mudah retak.



3. BATAKO SEMEN PC / BATAKO PRES

Batako pres dibuat dari campuran semen PC dan pasir atau abu batu.

Ada yang dibuat secara manual (menggunakan tangan), ada juga yang menggunakan mesin. Perbedaannya bisa dilihat pada kepadatan permukaan batakonya.

Umumnya memiliki ukuran panjang 36 – 40 cm, tebal 8 – 10 cm, dan tinggi 18 – 20 cm.

Kelebihan dinding batako pres:
  • Kedap air sehingga sangat kecil kemungkinan terjadinya rembesan air.
  • Pemasangan lebih cepat 
  • Penggunaan rangka beton pengakunya lebih luas, antara 9 – 12 m2.

Kekurangan dinding batako pres:
  • Harga relatif lebih mahal dibanding batako tras.
  • Mudah terjadi retak rambut pada dinding.
  • Mudah dilubangi karena terdapat lubang pada bagian sisi dalamnya.

4. BATA RINGAN (HEBEL/CELCON) 

Bata hebel dibuat dengan mesin di pabrik. Bata ini cukup ringan, halus, dan memiliki tingkat kerataan yang baik.

Bisa langsung diberi aci tanpa harus diplester terlebih dulu, dengan menggunakan semen khusus. Bahan dasar acian/semen tersebut adalah pasir silika, semen, filler, dan zat aditif. Untuk menggunakannya, semen ini hanya dicampur dengan air. Tetapi bisa juga menggunakan bahan seperti pemasangan batako.

Umumnya memiliki ukuran 60 cm x 20 cm dengan ketebalan 8 cm – 10 cm.

Kelebihan dinding bata hebel/celcon:
  • Kedap air sehingga sangat kecil kemungkinan terjadinya rembesan air.
  • Pemasangan lebih cepat.
  • Penggunaan rangka beton pengakunya lebih luas, antara 9 – 12.
  • Ringan, tahan api, dan mempunyai kekedapan suara yang baik.

Kekurangan dinding batahebel/celcon: 
  •  Harga relative lebih mahal.
  •  Tidak semua tukang pernah memasang bata jenis ini.
  •  Hanya toko material besar yang menjual dan penjualannya dalam jumlah m3.



Baca Selengkapnya ....

Penggunaan Perancah (Scaffolding)

Posted by Blogger Koetai Friday, 5 March 2010 0 comments
Berikut beberapa panduan dalam penggunaan perancah di tempat kerja ;

  1. Perancah harus dibuatkan untuk semua pekerjaan, yang tidak bisa dijamin keamanannya bila dikerjakan secara aman pada suatu ketinggian dan / atau setiap ketinggian pekerjaan yang melebihi 2 meter harus menggunakan perancah yang memenuhi standar.
  2. Papan untuk perancah harus tahan retak atau pecah.
  3. Paku harus mempunyai panjang dan tebal yang cukup. 
  4. Paku besi yang getas (cast iron) tidak boleh digunakan.
  5. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan perancah harus disimpan dengan baik dan jauh dari material yang berbahaya.
  6. Perancah harus dihitung dengan faktor pengaman (safety factor) sebesar 4 kali beban maksimal.
  7. Perancah harus diberi tangga pengaman untuk tempat berjalan dan lain-lain fasilitas yang aman.
  8. Perancah harus cukup diberi penguat (Brace).
  9. Semua kerangka berdirinya perancah bangunan harus berdasarkan standard konstruksi; mempunyai pondasi yang kuat dan cukuup tertanam dan diberi penguat untuk kesetabilan. 
  10. Batu bata, pipa yang rusak, bahan pembuat cerobong asap dan bahan-bahan lain yang tidak semestinya dipakai untuk penahan perancah, tidak boleh dipakai.
  11. Paku-paku harus ditanam penuh, tidak boleh separuh dan kemudian dibengkokkan.
  12. Paku tidak boleh menerima gaya tegangan langsung.
  13. Tali baja yang digunakan untuk perancah, tidak boleh terkena asam atau bahan kimia, yang memudahkan keadaan korosi (karat) dan bahan ini tidak boleh digunakan, untuk tali perancah kayu yang terbuat dari serat tidak dapat digunakan atau yang dapat mengundang bahaya.
  14. Bila terpaksa menggunakan perancah kayu karena ketiadaan perancah yang terbuat dari besi/pipa, maka pemilihan bahan harus berurat lurus, padat, tidak ada mata kayu yang besar-besar, kering tidak membusuk, tidak ada lubang ulat dan lain-lainya yakni tidak ada kerusakan yang dapat membahayakan runtuhnya susunan perancah.
  15. Untuk perancah yang berdiri sendiri harus terdiri atas gelagar memanjang dan melintang yang dihubungkan dengan kuat pada tiang penyanggah, ke atas atau ke samping, bergantung pada pemakaiannya untuk menjamin kesetabilan sampai perancah dapat dilepas.
  16. Setiap bagian dari perancah harus diperiksa sebelum dipasang.
  17. Setiap bentuk dan komposisi perancah harus diperiksa sebelumnya oleh petugas K3L untuk meyakinkan:

    • .dalam kondisi yang stabil
    •  bahan yang dipakai tidak rusak
    •  cukup baik untuk digunakan, dan
    • sudah diberi pengaman.
  18. Pemeriksaan perancah harus dilaksanakan oleh petugas K3L dan didokumentasikan:Setiap bagian harus dipelihara dengan baik dan teratur sehingga tidak ada yang rusak atau membahayakan waktu dipakai.

    • sedikitnya seminggu sekali
    • sesudah cuaca buruk, atau gangguan dalam masa pembangunan yang agak lama
  19. Setiap bagian harus dipelihara dengan baik dan teratur sehingga tidak ada yang rusak atau membahayakan waktu dipakai.
  20. Perancah tidak boleh sebagian dibuka dan ditinggal terbuka, kecuali kalau hal itu tetap menjamin keselamatan.
  21. Perancah yang tidak bebas harus dikaitkan ke bangunan dengan sistem jepit (rigid connections) yang kuat dengan jarak tertentu.
  22. Perancah yang tidak boleh terlalu tinggi di atas angker yang tertinggi, karena dapat membahayakan kesetabilan dan kekuatannya.
  23. Pada waktu mengangkat perlengkapan yang digunakan pada perancah:

    • Bagian-bagian dari perancah harus diperiksa dengan cermat dan kalau perlu diperkuat.
    • Setiap penggeseran dan penyanggah ( putlog ) harus dicegah.
    • Tiang penyanggah harus dihubungkan erat pada bagian bangunan yang kuat, di tempat alat pengangkat dipasang.
  24. Dalam melakukan kegiatan pemasangan perancah dan pembongkaran perancah hanya boleh dilakukan oleh petugas yang telah memiliki keahlian dalam pekerjaan perancah dan wewenang dalam melakukan
  25. Setiap tahapan pekerjaan perancah harus mengikuti urutan sesuai ketentuan teknis yang telah ditentukan oleh petugas yang mempunyai wewenang.
  26. Tahapan atau urutan yang dibuat oleh tenaga teknis berkeahlian pekerjaan perancah harus di dokumentasikan.25.

    • Tenaga ahli perancah yang mempunyai sertifikat perancah dan / atau
    • Petugas K3L khusus perancah/petugas K3L konstruksi



    Sumber

Baca Selengkapnya ....

Konstruksi Tangga Pada Teknik Sipil

Posted by Blogger Koetai Tuesday, 16 February 2010 0 comments
Tangga merupakan salah satu bagian dari bangunan yang berfungsi sebagai penghubung antara lantai pada bangunan bertingkat .
Syarat-syarat umum tangga ditinjau dari segi :

Penempatan
• diusahakan sehemat mungkin menggunakan ruangan
• mudah ditemukan oleh semua orang
• mendapat cahaya matahari pada waktu siang
• tidak menggangu lalu lintas orang banyak

Kekuatan
• kokoh dan stabil bila dilalui orang dan barang sesuai dengan perencanaan

Bentuknya
• sederhana, layak, sehingga mudah dan cepat pengerjaannya serta murah biayanya.
• Rapih, indah, serasi dengan keadaan sekitar tangga itu sendiri.


Dari segi penggunaan bahan, tangga terbagi atas :

1. Konstruksi tangga kayu



Untuk bangunan sederhana dan semi permanen. Pertimbangan : material kayu ringan, mudah didapat serta menambahkan segi estetika yang tinggi bila diisi dengan variasi profil dan difinishing dengan rapi. Kelemahan : tidak dapat dilalui oleh beban-beban yang berat, lebarnya terbatas, memiliki sifat lentur yang tinggi serta konstruksi tangga kayu tidak cocok ditempatkan di ruang terbuka karena kayu mudah lapuk jika terkena panas dan cahaya.


2. Konstruksi tangga baja



Biasanya digunakan pada bangunan yang sebagian besar komponen-komponen strukturnya terdiri dari material baja. Tangga ini digunakan pada bangunan semi permanen seperti bangunan peruntukan bengkel, bangunan gudang, dan lain-lain. Tangga ini kurang cocok untuk bangunan dekat pantai karena pengaruh garam akan mempercepat proses karat begitupun bila ditempatkan terbuka akan menambah biaya perawatan.

3. Konstruksi tangga beton
 

Sampai sekarang banyak digunakan pada bangunan bertingkat 2 (dua) atau lebih dan bersifat permanent seperti peruntukan kantor, rumah tinggal, pertokoan.


4. Konstruksi tangga batu/bata

Konstruksi ini mulai jarang digunakan karena sudah ketinggalan dalam bentuk, kekuatan, efisiensi pembuatannya, dana sangat terbatas dalam penempatannya.


Pada gedung ini material tangga yang digunakan menggunakan konstruksi tangga beton.
Adapun bentuk-bentuk tangga yaitu sebagai berikut :




  1. Tangga tusuk lurus, kedua boomnya lurus serta sejajar. Semua trade bentuknya sama lebar dan terletak siku pada boom.



  2. Tangga tusuk miring, kedua boomnya lurus serta sejajar. Semua trade sama lebar dan terletak miring pada boom.



  3. Tangga membilut, kedua boom ada yang lurus dan ada yang melengkung. Semua trade tidak sama lebar serta menyempit pada salah satu sisi, jadi berbentuk trapezium.



  4. Tangga dengan seperempatan, penghematan yang lebih besar akan ruangan, bisa berbentuk putaran ¼ lingkaran, bentuk trade-trade sebagai segitiga.



  5. Tangga bordes, mempunyai lebih dari 20 buah trade, pada pertengahan tingginya dibuat suatu dataran horizontal, yang dinamai bordes.



  6. Tangga berbentuk U dengan menggunakan bordes.





Baca Selengkapnya ....

perhitungan beban pondasi

Posted by Blogger Koetai Monday, 1 February 2010 0 comments
Dalam perencanaan suatu bentuk pondasi beberapa kriteria yang harus dipenuhi adalah :
  1. Pondasi harus diletakan pada tempat yang tepat baik dalam arah vertikal maupun horisontal agar tidak terganggu oleh pengaruh luar.
  2. Harus aman terhadap kemungkinan kegagalan kapasitas daya dukung (bearing capacity failure/collapse)
  3. Tidak mengalami penurunan yang berlebihan & penurunan yang tidak merata/deferential settlement pada pondasi tersebut yang dapat menyebabkan kerusakan konstruksi diatasnya.
  4. Pondasi tersebut harus cukup layak ditinjau dari sudut ekonomi agar dapat memenuhi kriteria diatas
    diperlukan tahapan perencanaan pondasi (khususnya pondasi tiang )yang disusun sebagai berikut :
  • Menghitung beban -beban untuk menentukan daya dukung dan analisa penurunan. Beban-beban total yang berupa pada tiang terdiri dari berat kepala tiang dan tanah diatasnya. Jika tanah merupakan timbunan atau akan ditimbun pada masa yang akan datang, beban tambahan akibat negative skin priction harus diperhitungkan.
  • Mengetahui propil tanah atau propil-propil yang menunjukan lapisan-lapisan tanah yang diatas propil ini ditentukan batas-batas penempatan pondasi atau struktur bangunan bawah yang direncanakan.
  • Mengetahui ketinggian air permanen. Jika tiang kayu tanpa pengawetan digunakan, kemungkinan penurunan muka air tanah pada waktu mendatang harus dipertimbangkan. Untuk pondasi-pondasi jembatan, kedalaman pengikisan oleh air harus ditetapkan dan diperhitungkan.
  • Menentukan jenis dan pancang tiang.
  • Menentukan kapasitas/daya dukung tiang. 
  • Menentukan jarak antara tiang.
  • Memeriksa tegangan -tegangan yang terjadi pada lapisan pendukung.
  • Membuat analisa penurunan. 
  • Merencanakan kepala tiang.
  • Memeriksa daya angkat dan beban -beban horisontal. 
  • Menentukan kriteria test pembebanan pada tiang.
Sumber

Baca Selengkapnya ....

Sistem Struktur untuk Bangunan Gedung

Posted by Blogger Koetai 0 comments
Beberapa sistem struktur yang sering digunakan untuk bangunan gedung :

1. Sistem Rangka Pemikul Momen
Sistem rangka pemikul Momen adalah sistem struktur yang pada dasarnya memiliki rangka ruang pemikul beban gravitasi dan beban lateral. SRPMB untuk wilayah gempa 1 dan 2, SRPMM untuk wilayah gempa 3 & 4, SRPMK untuk wilayah gempa 5 & 6.

2. Sistem Rangka Gedung
Pada sistem ini terdapat rangka ruang lengkap yang memikul beban-beban gravitasi, sedangkan beban lateral dipikul oleh dinding struktural. Walau dinding struktural direncanakan memikul seluruh beban gempa, namun rangka balok kolom harus diperhitungkan terhadap efek simpangan lateral dinding struktural oleh beban gempa rencana, mengingat rangka tersebut di tiap lantai masih menyatu dengan dinding struktur melalui lantai-lantai.

3. Sistem Ganda

Tipe sistem struktur ini memiliki 3 ciri dasar.
a) Rangka ruang lengkap berupa SRPM yang berfungsi memikul beban gravitasi.


b) Pemikul beban lateral dilakukan oleh DS san SRPM dimana SRPM harus secara tersendiri sanggup memikul sedikitnya 25% dari beban geser nominal.


c) DS dan SRPM direncanakan untuk menahan beban dasar geser nominal secara proporsional berdasarkan kekakuan relatifnya.
   


Baca Selengkapnya ....

Sejarah Teknik Sipil

Posted by Blogger Koetai Sunday, 31 January 2010 0 comments
Teknik Sipil ( Civil Engineering) adalah Ilmu yang mempelajari tentang bagaimana merancang, membangun, renovasi tidak hanya gedung dan infrastruktur, tetapi juga mencakup lingkungan untuk kebaikan hidup manusia, maka dari itu ilmu ini disebut dengan Sipil/Civil.


Teknik sipil termasuk profesi yang sudah berkembang sejak lama, diperkirakan sudah berkembang di Mesir kuno dan Mesopotamia antara 4000 sd 2000 SM. Adalah Pyramid Raja Djoser yang diketahui terdapat di kompleks Saqqara, diakui sebagai pyramid tertua di dunia (berusia lebih dar 4000 tahun,atau sekitar tahun 2600 SM), dibangun seorang engineer bernama Imhotep. Yang masih megah berdiri hingga kini.
 
Gambar : Patung Imhotep
  
 
 
Gambar : Piramida karya Imhotep
                                                          
 
  
Awalnya Profesi Engineer ini dimiliki oleh militer (bagiang dari jabatan militer) untuk membangun pertahanan, benteng, pos pos militer, jalan, jembatan dan bangunan pendukung perang lainnya. Seusai perang para engineer ini dibutuhkan untuk membangun ulang kota yang sudah hancur, menata kota lebih teratur sesusai kebutuhan. Namun akhirnya profesi ini terpisah dari militer. Civil Engineering. Ilmu yang melingkupi Civil engineering ini termasuk matematika, kimia, geologi, lingkungan hingga komputer. Semuanya memiliki fungsi penting dalam Civil engineering.


Istilah Civil Engineer sendiri dikenalkan oleh John Smeaton seorang kebangsaan inggris yang telah banyak berkarya membangun berbagai macam struktur seperti “Eddystone Lighthouse” yang dibangun tahun 1756.

 
Gambar : John Smeaton, bapak Teknik Sipil
                                
 
Gambar : Eddystone Lighthouse karya Smeaton
 
 
Teknik Sipil terbagi beberapa cabang yaitu Struktur, Geoteknik, Manajemen Rekayasa Konstruksi, Hidrologi, Teknik Lingkungan,dan Transportasi.


Profesi Seorang civil engineer ini mencakup perancangan/pelaksana pembangunan/pemeliharaan prasarana jalan, jembatan, terowongan, gedung, bandar udara, lalu lintas (darat, laut, udara), sistem jaringan kanal, drainase, irigasi, perumahan, gedung, minimalisasi kerugian gempa, perlindungan lingkungan, penyediaan air bersih, konsep finansial dari proyek, manajemen projek dsb. Semua aspek kehidupan tercangkup dalam muatan ilmu teknik sipil.


Perkembangan teknologi menuntut profesi Civil Engineering tidak hanya berurusan dengan proyek bangunan, tetapi diharuskan memahami bidang lainnya seperti halnya informatika; Komputasi, yang memungkinkan untuk memudahkan kelancaran suatu proyek dalam Analisis dan Design, dan Arsitektur. Sebutlah misalnya pemodelan bangunan dengan AutoCAD, Manajemen proyek dengan Primavera atau MS Project, Analisis struktur akibat beban gempa, Beban Angin, Beban bergerak dan lainnya, smua itu dapat dimodelisasi dengan bantuan Komputer. Hal ini tentu akan mengurangi faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan struktur. Hasilnya tahun 1960 sd 70-an, Proyek komputasi pertama kali digunakan untuk mendesign Sydney Opera House.
 
Gambar : Tampilan program AutoCAD

 
 
Gambar : Sydney Opera House, gedung pertama dengan perhitungan komputasi
 
 
 

 
  

Baca Selengkapnya ....

Sejarah Arsitek Di Indonesia

Posted by Blogger Koetai 0 comments
Indonesia mewarisi tradisi membangun secara tradisional yang turun-temurun lintas generasi mengakomodasi kebutuhan masyarakat sesuai tingkat sosial-budaya yang berlaku dalam kelompoknya. Tradisi itu dengan bijak mampu memanfaatkan potensi alam sekitarnya, sekaligus tunduk pada keterbatasannya. Konteks lingkungan menjadi guru abadi yang senantiasa memberi pelajaran secara kolektif tentang cara membangun yang tepat.

Memasuki era modern (mulai awal abad XIX), kebutuhan baru bermunculan sejalan dengan perubahan jaman. Pabrik, stasiun kereta api, pelabuhan laut, kantor perdagangan, gedung pertunjukan, untuk menyebutkan beberapa contoh saja, menuntut cara membangun yang berbeda. Hingga akhir abad XIX pembangunan di Hindia Belanda sangat didominasi oleh kelompok zeni dari militer dan oleh para insinyur serta arsitek dari Departemen Pekerjaan Umum.

Pada masa itu, kegiatan rancang-bangun oleh aannemer (pemborong) lazim berlaku. Kegiatan merencana dan membangun menjadi satu kesatuan, dilakukan oleh satu pihak yang dipilih oleh pemberi tugas. Praktek ini banyak terjadi terutama pada bangunan rumah tinggal, namun banyak pula terjadi pada bangunan publik. Bangunan didirikan menurut pola dan langgam yang tersedia di buku-buku desain dengan berbagai penyesuaian yang diperlukan menurut kebutuhan dan selera pemberi tugas, dan karakteristik tapak yang ada.

Ketika pembangunan di berbagai lapangan kehidupan meningkat tajam (terutama setelah UU Agraria 1870 berlaku). Sekolah teknik didirikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga trampil yang dapat mendukung pekerjaan pembangunan yang dilakukan oleh para insinyur untuk bangunan gedung, pekerjaan irigasi dan jalan raya. Tenaga trampil yang baik dapat naik pangkat dari opzichter (pengawas) menjadi arsitek.

Dalam sejarah kita, arsitek pertama Indonesia adalah Aboekasan Atmodirono (1860-1920). Ia lulus Sekolah Teknik Menengah Jurusan Bangunan (Middelbare Technische School) yang berhasil mencapai jenjang opzichter. Setelah naik pangkat, ia dikenal sebagai de eerste inlandse architect (arsitek pribumi pertama) dan bekerja di Departement van Burgerlijke Openbare Werken (Departemen Pekerjaan Umum). Ia hadir di Kongres I Boedi Oetomo dan masuk dalam daftar calon ketua. Ketika pemerintah Hindia Belanda membentuk Dewan Rakyat (volksraad) di tahun 1918, ia ditunjuk duduk di parlemen sebagai tokoh Boedi Oetomo yang juga mewakili Perhimpunan Pamong Praja Pribumi “Mangoenhardjo”.

Ketika kesempatan sekolah ke luar negeri terbuka bagi kaum bumiputera, Notodiningrat masuk sekolah tinggi teknik di Delft dan lulus sebagai insinyur sipil pertama Indonesia di tahun 1916. Ia juga dikenal sebagai salah seorang pendiri Indische Vereniging (Perhimpunan Hindia, cikal bakal Perhinpunan Indonesia). Insinyur sipil pada masa itu mampu menangani pekerjaan perencanaan dan pengawasan di bidang bangunan gedung, irigasi dan jalan raya. Karirnya dijalani di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum. Setelah masa kemerdekaan, Prof. Ir. Wreksodiningrat (alias Notodiningrat) ikut mendirikan Fakultas Teknik UGM dan menjadi Dekan (1947-1951).

Usai PD I, muncul tokoh nasional yang mengawali karirnya sebagai arsitek, yaitu Abikoesno Tjokrosujoso. Setelah lulus dari Koningin Emma School di Surabaya pada tahun 1917, ia secara otodidak meniti karir di bidang konstruksi. Belakangan ia dapat mengikuti ujian arsitek dan lulus di tahun 1921 (sumber lain mengatakan 1923 atau 1925). Disamping aktif di dunia politik (adik HOS Tjokroaminoto yang kemudian memimpin PSII) ia juga memiliki usaha aannemer dan pernah pula bekerja sebagai asisten bersama Moh. Soesilo (perencana kota Kebayoran Baru) di biro milik Thomas Karsten di Semarang. Setelah Indonesia merdeka, ia ditunjuk menjadi Menteri Pekerjaan Umum dan Perhubungan RI yang pertama.

Di tahun 1920 Technische Hoogeschool di Bandung mulai beroperasi. Empat orang bumiputera pertama yang lulus dari sekolah itu (1926) adalah Anwari, Ondang, Soekarno dan Soetedjo. Soekarno, Proklamator dan Presiden RI I, menyebut dirinya insinyur-arsitek. Di awal karirnya, ia mendirikan biro insinyur pertama bumiputera bersama Anwari. Belakangan ia juga mendirikan biro insinyur bersama Rooseno. Pekerjaannya meliputi perencanaan dan sekaligus juga membangun rumah tinggal, pertokoan dsb. sebagai arsitek pemborong (aannemer).

Di era kemerdekaan, pekerjaan arsitek masih dilahirkan dari insinyur sipil lulusan TH Bandung (sekarang ITB), disamping para tenaga trampil yang menyebutkan dirinya arsitek (tingkat teratas dari seorang opzichter atau pengawas, antara lain dapat disebutkan nama Silaban dan Soedarsono). Untuk memenuhi kebutuhan sesuai tuntutan jaman, maka baru di tahun 1950 dibentuk jurusan arsitektur agar segera lahir lulusan sarjana arsitektur Indonesia yang khusus menangani bangunan gedung. Pada tahun 1958 jurusan tersebut berhasil meluluskan 16 sarjana arsitektur pertama.

Pembangunan yang pesat di akhir tahun 1950-an telah mendorong kesadaran dari para arsitek dan sarjana arsitektur lulusan pertama untuk membanguna tatanan baru dunia konstruksi di Indonesia. Tiga arsitek senior, yaitu Ars. Moh. Soesilo, Ars. Silaban, dan Ars. Liem Bwan Tjie, bersama 17 sarjana arsitektur angkatan pertama yang dimotori oleh Ir. Soehartono Soesilo (putra Ars. Moh. Soesilo) bersepakat mendirikan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) pada tanggal 17 September 1959.

IAI dibentuk sebagai reaksi terhadap praktek aannemer yang ditengarai menghambat kemajuan di bidang arsitektur. Arsitek sebagai profesi memerlukan posisi yang lebih mulia dan tidak terjebak pada kegiatan yang dapat menimbulkan konflik kepentingan. Kegiatan aannemer (rancang-bangun) dianggap menodai integritas seorang arsitek dalam memberikan layanan keahliannya. IAI dibentuk untuk mendorong status seorang arsitek menjadi “arsitek murni” yang dapat memusatkan perhatiannya pada tahap perencanaan dan tidak tergoda pada sisi bisnis kegiatan membangun yang dilakukan pemborong (kontraktor). Pembentukan IAI mendapat persetujuan dari Presiden Sukarno, sekaligus bersedia menjadi pelindung asosiasi profesi arsitek satu-satunya di Indonesia.

Tidak lama kemudian sejumlah sarjana arsitek lulusan Belanda/Jerman pulang ke tanah air untuk mengabdikan keahliannya untuk nusa dan bangsa, antara lain: Sujudi, Soewondo, Bianpoen dan Han Awal. Dengan gelar Dipl.Ing, mereka bersama-sama lulusan dari ITB telah membuka jalan baru dunia arsitektur di Indonesia melalui karya-karya yang membanggakan.

Seiring dengan pembangunan berbagai fasilitas modern di Indonesia, berbagai sayembara dilangsungkan untuk mendapatkan karya terbaik. Arsitek sebagai seorang ahli bangunan gedung mendapat tempat khusus di dunia konstruksi. Namanya sebagai individu menjadi jaminan kompetensi dan tanggung jawabnya. Sebagian besar usaha di bidang arsitektur didirikan sebagai sebuah biro atau firma (seperti advokat).

Pada perkembangannya kemudian, pendidikan di sekolah teknik tingkat STM dan sarjana muda berkembang pesat mengikuti kebutuhan yang meningkat, untuk melatih seseorang dapat menjalankan pekerjaan sebagai seorang arsitek. Siapa saja dapat berperan sebagai arsitek dan merencana berbagai fasilitas yang dibutuhkan oleh masyarakat. Baru di pertengahan tahun 1970-an, pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan peraturan bahwa diperlukan lisensi atau ijin praktek bagi seseorang yang akan menjalankan peran sebagai arsitek penanggung jawab suatu proyek perencanaan banunan gedung. Para lulusan sarjana arsitektur dapat memiliki lisensi A, yang sarjana muda memiliki lisensi B, dan yang lulusan setingkat STM mendapat C. Dalam prosesnya kemudian mereka dapat mengajukan peningkatan kelas (dari C ke B dan dari B ke A). Bagi mereka yang telah mendapatkan lisensi praktek, dianjurkan menjadi anggota asosiasi profesi (baca: IAI). Pembinaan dan peningkatan kualitas keprofesionalannya diserahkan kepada asosiasi profesi melalui berbagai penataran, seminar dan kegiatan lainnya.

Sementara itu, kegiatan usaha praktek arsitek diarahkan menjadi perseroan terbatas, khususnya bagi mereka yang akan mengikuti proses pengadaan jasa di lingkungan pemerintah. Perkembangan ini secara perlahan-lahan mengubah sebutan “arsitek” menjadi “konsultan”. Akhir-akhir ini, telah dikembangkan pula sebutan “penyedia jasa” sebagaimana tercantum di dalam UU Jasa Konstruksi dan UU Bangunan Gedung. Sebutan “arsitek” serta merta menghilang dari tataran hukum dan pada gilirannya juga mengandung arti yang secara langsung mengubah esensi keprofesionalannya.


Baca Selengkapnya ....