Showing posts with label Pertambangan. Show all posts
Showing posts with label Pertambangan. Show all posts

Metode Penyaliran Tambang

Posted by Blogger Koetai Saturday, 29 January 2011 0 comments
Pengertian dari sistem penyaliran tambang adalah suatu usaha yang diterapkan pada daerah penambangan untuk mencegah, mengeringkan, atau mengeluarkan air yang masuk ke daerah penambangan. Upaya ini dimaksudkan untuk mencegah terganggunya aktivitas penambangan akibat adanya air dalam jumlah yang berlebihan, terutama pada musim hujan. Selain itu, sistem penyaliran tambang ini juga dimaksudkan untuk memperlambat kerusakan alat serta mempertahankan kondisi kerja yang aman, sehingga alat-alat mekanis yang digunakan pada daerah tersebut mempunyai umur yang lama.
 
Penyaliran Pada Tambang Terbuka
Penanganan masalah air dalam suatu tambang terbuka dapat dibedakan menjadi dua yaitu : 

1. Mine Drainage
Merupakan upaya untuk mencegah masuknya air ke daerah penambangan. Hal ini  umumnya dilakukan untuk penanganan air tanah dan air yang berasal dari sumber air permukaan.
Beberapa metode penyaliran Mine drainage :
  • Metode Siemens. Pada tiap jenjang dari kegiatan penambangan dibuat lubang bor kemudian ke dalam lubang bor dimaksukkan pipa dan disetiap bawah pipa tersebut diberi lubang-lubang. Bagian ujung ini masuk ke dalam lapisan akuifer, sehingga air tanah terkumpul pada bagian ini dan selanjutnya dipompa ke atas dan dibuang ke luar daerah penambangan. 
Metode Siemens



  • Metode Pemompaan Dalam (Deep Well Pump). Metode ini digunakan untuk material yang mempunyai permeabilitas rendah dan jenjang tinggi. Dalam metode ini dibuat lubang bor kemudian dimasukkan pompa ke dalam lubang bor dan pompa akan bekerja secara otomatis jika  tercelup air. Kedalaman lubang bor 50 meter sampai 60 meter.
Metode Deep well pump


  • Metode Elektro Osmosis. Pada metode ini digunakan batang anoda serta katoda. Bilamana elemen-elemen dialiri arus listrik     maka air akan terurai, H+ pada katoda (disumur besar) dinetralisir menjadi air dan terkumpul pada sumur lalu dihisap dengan pompa. 
Metode electro osmosis


  • Small Pipe With Vacuum Pump. Cara ini diterapkan pada lapisan batuan yang inpermiabel (jumlah air sedikit) dengan membuat lubang bor. Kemudian dimasukkan pipa yang  ujung bawahnya diberi lubang-lubang. Antara pipa isap dengan dinding lubang bor diberi kerikil-kerikil kasar (berfungsi sebagai penyaring kotoran) dengan diameter kerikil lebih besar dari diameter lubang. Di bagian atas antara pipa dan lubang bor di sumbat supaya saat ada isapan pompa, rongga antara pipa     lubang bor kedap udara sehingga air akan terserap ke dalam lubang bor.
Metode Small Pipe With Vacuum Pump


2. Mine Dewatering
Merupakan upaya untuk mengeluarkan air yang telah masuk ke daerah penambangan. Upaya ini terutama untuk menangani air yang berasal dari air hujan.

Beberapa metode penyaliran mine dewatering adalah sebagai berikut :
  • Sistem Kolam Terbuka. Sistem ini diterapkan untuk membuang air yang telah masuk ke daerah penambangan. Air dikumpulkan pada sumur (sump), kemudian dipompa keluar dan pemasangan jumlah pompa tergantung kedalaman penggalian. 
  • Cara Paritan. Penyaliran dengan cara paritan ini merupakan cara yang paling mudah, yaitu dengan pembuatan paritan (saluran) pada lokasi penambangan. Pembuatan parit ini bertujuan untuk menampung air limpasan yang menuju lokasi penambangan. Air limpasan akan masuk ke saluran-saluran yang kemudian di alirkan ke suatu kolam penampung atau dibuang langsung ke tempat pembuangan dengan memanfaatkan gaya gravitasi. 
  • Sistem Adit. Cara ini biasanya digunakan untuk pembuangan air pada tambang terbuka yang mempunyai banyak jenjang. Saluran  horisontal yang dibuat dari tempat kerja menembus ke shaft yang dibuat di sisi bukit untuk pembuangan air yang masuk ke dalam tempat kerja. Pembuangan dengan sistem ini biasanya mahal, disebabkan oleh biaya pembuatan saluran horisontal tersebut dan shaft.
Sistem Adit


Penyaliran Pada Tambang Bawah Tanah
Penanganan masalah air pada tambang bawah tanah umumnya dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :

  1. Dengan “Tunnel” (Terowongan). Penyaliran dengan cara ini adalah dengan membuat “tunnel” atau “adit” bila topografi daerahnya memungkinkan, dimana terowongan atau “adit” ini dibuat sebagai level pengeringan tersendiri untuk mengeluarkan air tambang bawah tanah. Cara ini relatif murah dan ekonomis bila dibandingkan dengan sistem penyaliran  menggunakan cara pemompaan air ke luar tambang. 
  2. Dengan Pemompaan. Penyaliran tambang bawah tanah dengan sistem pemompaan adalah untuk mengeluarkan air yang terkumpul pada dasar “shaf” atau sumuran bawah tanah yang sengaja dibuat untuk menampung air dari permukaan maupun air rembesan air bawah tanah.


Baca Selengkapnya ....

Explosives - ANFO (Ammonium Nitrate - Fuel Oil)

Posted by Blogger Koetai Monday, 4 October 2010 2 comments
On 10 November 2009 International troops and Afghan police seized 250 tons of ammonium nitrate fertilizer in the southern city of Kandahar. Ammonium nitrate fertilizer, is used to make about 95 percent of the bombs in Afghnaistan. Roadside bombs account for 80 percent of US casualties in Afghanistan. IED incidents in Afghanistan have fallen from more than 1,000 in July 2009 to 704 in October 2009. US troops in southern Afghanistan have had the authority to compensate local farmers for fertilizer seized by US troops. Farmers can receive about $28 — twice the market rate — for each 50-kilogram bag of ammonium nitrate fertilizer. [SOURCE: Jeff Schogol, writing in the November 12, 2009 edition of Stars and Stripes]

Ammonium nitrate-fuel oil (ANFO) blasting agents represent the largest industrial explosive manufactured (in terms of quantity) in the United States. This product is used primarily in mining and quarrying operations. The components are generally mixed at or near the point of use for safety reasons. The mixed product is relatively safe and easily handled and can be poured into drill holes in the mass or object to be blasted.

Melvin A. Cook's life is intimately connected with the history of explosives, he is a scientist,, inventor, teacher, businessman, theorist, consultant, expert witness, entrepreneur, and author. Cook, a professor of metallurgy at the University of Utah, was a businessman and author of works on explosives. He also published works on creationism, particularly on the relationship between science and Mormonism. Cook's personal involvement in both the theoretical and practical aspects of the field of explosives spans more than fifty years.

Cook's greatest commercial explosives invention was formulated in December of 1956, when he created a new blasting agent using an unusual mixture of ammonium nitrate, aluminum powder, and water. The safety and efficiency of this new explosive were apparent, and the use of water was revolutionary. Tests that followed resulted in the development of a new field of explosives: slurry explosives. This invention converted the commercial explosives industry from "dangerous dynamite" to "safe slurry" and dry blasting agents [ANFO]. In 1972 Cook developed the BLU-82, the largest and most powerful chemical bomb, using aluminized slurry.

Blasting agents consist of mixtures of fuels and oxidizers, none of which are classified as explosive. Nitrocarbonitrate is a classification given to a blasting agent under the US Department of Transportation regulations on packaging and shipping. A blasting agent consists of inorganic nitrates and carbonaceous fuels and may contain additional nonexplosive substances such as powdered aluminum or ferrosilicon to increase density. The addition of an explosive ingredient such as TNT changes the classification from a blasting agent to an explosive. Blasting agents may be dry or in slurry forms. Because of their insensitivity, blasting agents should be detonated by a primer of high explosive.

Ammonium nitrate- fuel oil has largely replaced dynamites and gelatins in bench blasting. Denser slurry blasting agents are supplanting dynamite and gelatin and dry blasting agents. The most widely used dry blasting agent is a mixture of ammonium nitrate prills (porous grains) and fuel oil. The fuel oil is not precisely CH2, but this is sufficiently accurate to characterize the reaction. The right side of the equation contains only the desirable gases of detonation, although some CO and N02 are always formed. Weight proportions of ingredients for the equation are 94.5 percent ammonium nitrate and 5.5 percent fuel oil. In actual practice the proportions are 94 percent and 6 percent to assure an efficient chemical reaction of the nitrate.

Uniform mixing of oil and ammonium nitrate is essential to development of full explosive force. Some blasting agents are premixed and packaged by the manufacturer. Where not premixed, several methods of mixing in the field can be employed to achieve uniformity. The best method, although not always the most practical one, is by mechanical tier. A more common and almost as effective method of mixing is by uniformly soaking prills in opened bags with 8 to 1O percent of their weight of oil. After draining for at least a half hour the prills will have retained about the correct amount of fuel oil.

Fuel oil can also be poured onto the ammonium nitrate in approximately the correct proportions as it is poured into the blasthole. For this purpose, about i gal of fuel oil for each 100 lb of ammonium nitrate will equal approximately 6 percent by weight of oil. The oil can be added after each bag or two of prills, and it will disperse relatively rapidly and uniformly. Inadequate priming imparts a low initial detonation velocity to a blasting agent, and the reaction may die out and cause a misfire. High explosive boosters are sometimes spaced along the borehole to as sure propagation throughout the column.

As in other combustion reactions, a deficiency of oxygen favors the formation of carbon monoxide and unburned organic compounds and produces little, if any, nitrogen oxides. An excess of oxygen causes more nitrogen oxides and less carbon monoxide and other unburned organics. For ammonium nitrate and fuel oil (ANFO) mixtures, a fuel oil content of more than 5.5 percent creates a deficiency of oxygen.

Ammonium nitrate and fuel oil (ANFO) has a broad spectrum of Velocities of Detonation according to numerous references. However, some of these references are more specific when establishing parameters. A military catering charge lists a VOD of 10,700 feet per second (fps). A 4" diameter steel tube confinement is at 10,000 fps, while a 16" diameter tube is at 16,000 fps. In charge diameters of 6 in. or more, dry blasting agents attain confined detonation velocities of more than i2,000 fps, but in a diameter of 1- 1/2 in., the velocity is reduced to 60 percent. When ANFO is used in boreholeing, the VOD has a positive slope as a function of depth, the VOD increases as the detonation front progresses down the borehole. Enhanced effects of very large quantities, which is essentially self tamping, the VOD is expected to be in the 13,000-15,000 fps range. A ballpark approximation for very large quantities of blasting agents, which is accepted in the commercial industry, is roughly half the VOD of C-4/plastics, which equates to 13,000 fps. The recognized VOD of urea nitrate, however, is 11,155 to 15,420 fps.

The specific gravity of ANFO varies from 0.75 to 0.95 depending on the particle density and sizes. Confined detonation velocity and charge concentration of ANFO vary with borehole diameter. Pneumatic loading results in high detonation velocities and higher charge concentrations, particularly in holes smaller than 3 in. (otherwise such small holes are not usually recommended for ANFO blasting).


The simple removal of a tree stump might be done with a 2-step train made up of an electric blasting cap and a stick of dynamite. The detonation wave from the blasting cap would cause detonation of the dynamite. To make a large hole in the earth, an inexpensive explosive such as ANFO might be used. In this case, the detonation wave from the blasting cap is not powerful enough to cause detonation, so a booster must be used in a 3- or 4-step train. The yield from the blasting caps and safety fuses used in these trains are usually small compared to those from the main charge, because the yields are roughly proportional to the weight of explosive used, and the main charge makes up most of the total weight.

Advantages of insensitive dry blasting agents are their safety, ease of loading, and low price. In the free-flowing form, they have a great advantage over cartridge explosives because they completely fill the borehole. This direct coupling to the walls assures efficient use of explosive energy. Ammonium nitrate is water soluble so that in wet holes, some blasters pump the water from the hole, insert a plastic sleeve, and load the blasting agent into the sleeve. Special precautions should be taken to avoid a possible building up of static electrical charge, particularly when loading pneumatically. When properly oxygen- balanced, the fume qualities of dry blasting agents permit their use underground. Canned blasting agents, once widely used, have unlimited water resist-ance, but lack advantages of loading ease and direct coupling to the borehole.

In 2001, US explosives production was 2.38 million metric tons (Mt), 7% less than that in 2000; sales of explosives were reported in all States. Coal mining, with 69% of total consumption, continued to be the dominant use for explosives in the United States. Kentucky, West Virginia, Indiana, Wyoming, and Virginia, in descending order, were the largest consuming States, with a combined total of 46% of US sales.

After completing an investigation into dumping of ammonium nitrate from Ukraine that was begun in 2000, the US International Trade Commission (ITC) issued its final determination in August 2001. The ITC determined that imports of ammonium nitrate from Ukraine were sold in the United States at less than fair market value and that critical circumstances did not exist with regard to these imports. As a result of the negative determination regarding critical circumstances, the duties were not retroactive and only apply to ammonium nitrate that has been imported since March 5, 2001. The antidumping duty of 156.29% ad valorem that was finalized by the International Trade Administration in July 2001 was applied.

Sales of ammonium-nitrate-based explosives (blasting agents and oxidizers) were 2.34 Mt in 2001, which was an 8% decrease from that of 2000, and accounted for 98% of US industrial explosives sales. Sales of permissibles and other high explosives increased slightly. Data for 2001 are not exactly comparable to the 2000 data. One company, Nelson Brothers LLC, did not provide data to the Institute of Makers of Explosives (IME) in 2001, and no estimate for its sales was included in the totals.

By 2001 engineers in the Fuels and Lubricants Group of Shell Co. of Australia developed a technique to blend waste oil with ANFO for a product that can be used in blasting. Mines throughout the world produce thousands of liters of waste fuel oil that needs to be disposed of in an environmentally safe manner. By using the fuel oil in a blasting compound, transporting the waste oil is eliminated, the quantity of fuel oil needed for blasting is reduced, and potentially toxic hydrocarbons in waste oil can be destroyed by the high blast temperature. Shell tested the ANFO-waste oil blend at Hamersley Iron's Marandoo mine site, and found that the ratio of waste oil to ANFO blend could be as much as 50-50 without any detrimental effect to the final blasting performance.

Urea nitrate is also considered a type of fertilizer-based explosive, although, in this case, the two constituents are nitric acid (one of the ten most produced chemicals in the world) and urea. A common source of urea is the prill used for de-icing sidewalks. Urea can also be derived from concentrated urine. This is a common variation used in South America and the Middle East by terrorists. Often, sulfuric acid is added to assist with catalyzing the constituents. A bucket containing the urea is used surrounded by an ice bath. The ice serves in assisting with the chemical conversion when the nitric acid is added. The resulting explosive can be blasting cap sensitive. Urea nitrate has a destructive power similar to ammonium nitrate.

By one estimate, the bomb used to attack the Alfred Murrah Federal Building in Oklahoma City on April 19, 1995 consisted of an ANFO explosive main charge of approximately 4,000 pounds, based on an estimate of the Velocities of Detonation [VOD] of approximately 13,000 fps. Other estimates claim that the 1995 explosion that collapsed portions of the Murrah Federal Building in Oklahoma City contained 4,800 pounds of ammonium nitrate and fuel oil. Later estimates suggested that the bomb had in excess of 6,200 pounds of various energetic materials, including explosives other than ANFO, equivalent to 5,000 pounds of TNT. In the Salameh World Trade Center bombing case resulting from the bombing of the World Trade Center (WTC) on February 26, 1993, FBI Explosives Unit examiner David Williams opined that the main explosive used in the bombing consisted of 1,200 pounds of urea nitrate explosive. The FBI chemists specializing in the examination of explosive residue, however, did not find any residue identifying the explosive at the World Trade Center.

Not all large truck bombs have used ANFO. On June 25, 1996, Saudi terrorists sponsored by Iran attacked the Khobar Towers barracks, a high-rise building complex in a densely populated urban environment in Saudi Arabia. T tanker truck loaded with at least 5,000 pounds of plastic explosives was driven into the parking lot in front of the Khobar Towers residential complex in Dhahran. Nineteen American service members were killed in the blast, and hundreds of other service members and Saudis were injured. There is no doubt that the extent of the casualties at Khobar Towers resulted, in part, from the extraordinary size of the terrorist bomb. Reports initially estimated that the bomb contained the equivalent of 3,000 to 8,000 pounds of TNT, but a study by the Defense Special Weapons Agency concluded that the power of the bomb was actually closer to 20,000 pounds of TNT.




Baca Selengkapnya ....

Explosives - Mining Types

Posted by Blogger Koetai 0 comments

Most of the explosives and blasting agents sold in the US are used in mining. There are two classifications of explosives and blasting agents. High explosives include permissibles and other high explosives. Permissibles are explosives that the Mine Safety and Health Administration approved. Blasting Agents and Oxidizers include ammonium nitrate-fuel oil (ANFO) mixtures, regardless of density; slurries, water gels, or emulsions; ANFO blends containing slurries, water gels, or emulsions; and ammonium nitrate in prilled, grained, or liquor form. Bulk and packaged forms of these materials are contained in this category. In 1998, about 95% of the total blasting agents and oxidizer were in bulk form.

The principle distinction between high explosives and blasting agents is their sensitivity to initiation. High explosives are cap sensitive, whereas blasting agents are not.

Many coal mines use explosives to loosen the rock and coal. In surface mining, holes are drilled through the overburden, loaded with explosives, and discharged, shattering the rock in the overburden. In one underground mining method, the coal is blasted off the bed without any undercutting to help break it down. The drawback to this method is that a dangerously large explosive charge is needed, and much dust and fine coal are produced. In another underground mining method using explosives to break down the coal, shot holes are drilled at intervals along the face of the coal bed. The explosives are inserted in these holes or shots. When the explosion occurs, the coal wall cracks into pieces. Coal mines use cylinders of compressed air, liquid carbon dioxide, or chemical explosives. Approximately 1.72 million metric tons (Mt) of explosives used for coal mining in 2000. This accounted for 67 percent of total U.S. explosives consumption. The largest coal producing states, Wyoming, West Virginia, and Kentucky were also the largest explosives-consuming states, accounting for 41 percent of total U.S. explosive sales.

Quarrying and nonmetal mining, the second-largest explosives-consuming industries, accounted for 14 percent of total explosives sales and metal mining accounted for 9 percent. Kentucky, Wyoming, West Virginia, Virginia, and Indiana, in descending order, were the largest consuming states, with a combined total of 51 percent of total US sales of explosives.


Cast Blasts

Explosive casting is the technique used by many surface coal mines to control the displacement of overburden by means of explosive energy. The casting moves 30-80% of the overburden into the mined-out pit, while the remaining spoil is removed by draglines or other machinery. A blasting engineer must consider bench height, pit width, borehole diameter, and geologic formation when designing a cast blast. In most cases, the blaster uses a complicated sequence of downhole and surface delays to minimize the ground roll associated with the large amounts of explosives (between 0.5-8 million pounds, ie, 500 to 4,000 tons, of Ammonium Nitrate Fuel Oil ANFO) used in a cast blast. The casting of the overburden into the pit creates both horizontal and vertical spall force components that influence the generation of surface waves.

Kiloton class mine blasts are not uncommon in numerous regions worldwide such as Wyoming, Kentucky and, at least historically, the Kuzbass mining region in Russia. These use delay-firing and thus a considerable explosive yield is spread out over several seconds and seismic amplitudes are reduced. It is well known that minor deviations from the planned shot pattern are obiquitous. A small subset of these events, however, include a significant detonation anomaly.


Fragmentation Blasts
The majority of hard rock open-pit mines design blasts that will optimize the insitu fragmentation of the material. This is accomplished by loading the holes with two different energy levels: higher energy explosives in the bottom and lower energy near the top. The result is that the material is not thrown into the mined-out pit as in the cast blasts. Instead, the material is fractured in place and removed with shovels and haul trucks. Seismic waves generated from a fragmentation blast should be influenced only by the explosion point and vertical component spall forces.

Quarry Blasts
A third type of explosion used in the mining industry is for quarrying materials such as limestone, gravels, and igneous rocks. On average, quarry blasts are smaller in spatial extent and explosives content than fragmentation and cast blasts. Since these operations usually involve the crushing of the rock, efficient fragmentation of the rock into small pieces is required for use in a rock crusher. For ease in extraction of the materials, the rocks are usually blasted into the mined-out pit. Quarrry blasts seismograms will thus have both horizontal and vertical spall forces effecting the regional seismograms.

Classification of Mining Explosions
When the eject angle is 0°, there is no horizontal spall component and the blast is analogous to a fragmentation shot. For quarry blasts, there is some material cast into the pit at eject angles greater than 45°, however, a additional amount of the spalled material is cast into the air at angles between 0 and 30°. Finally, for cast blasts, the majority of the material is ejected at angles greater than 30°. Cast blasts will have the largest deviation from an isotropic source (i.e., a fragmentation blast) with the magnitude of the azimuthal variations being dependent upon the eject angle. In all cases, there is a slight increase in the amplitudes in the direction of the delay-firing. For the cast blasts to take on a more di-polar ("peanut-shaped") radiation pattern, the mass of the horizontal spall must be increased. By adding additional rows of explosives with different interrow and interhole delays, the characteristics can become markedly different.




Baca Selengkapnya ....

Membaca Peta Kontur (bag. 2)

Posted by Blogger Koetai Saturday, 19 June 2010 0 comments
Menyambung artikel sebelumnya yaitu Membaca Peta Kontur (bag. 1)


Membuat Potongan Profil

Untuk membuat suatu potongan profil yang utuh antara dua titik A dan B pada peta berkontur, gambarlah sebuah garis lurus pada peta antara titik-titik tersebut. Temukan kontur-kontur rendah dan tinggi yang terpotong oleh garis. Pada gambar 5.4 kontur yang tertinggi adalah 200 meter, dan yang terendah adalah 80 meter.
Letakkan secarik kertas dengan tepi yang lurus sepanjang garis AB, dan tandai pada titik A dan titik B tersebut juga titik-titik di mana kontur-kontur memotong garis. Berilah label angka tinggi.

Pemotongan Garis Kontur


Dari masing-masing tanda turunkan garis tegak lurus pada kertas. Sejajar dengan pinggiran yang sudah ditandai gambar garis-garis paralel dengan skala yang sesuai untuk menunjukkan angka tinggi dari masing-masing kontur yang dipotong oleh garis AB, yaitu 80 sampai dengan 200 meter. Buat sebuah tanda pada setiap garis vertikal di mana itu memotong skala tinggi sejajar sesuai dengan tingginya pada garis AB. Gabungkan tanda-tanda ini dengan suatu garis kurva yang halus, memungkinkan untuk membentuk lereng permukaan antara kontur-kontur di lembah dan di puncak bukit. Penggunaan kertas milimeter atau grid akan memudahkan penggambaran.

Potongan yang menunjukkan intervisibilitas


Menentukan Gradien Jalan Pada Peta

Kemiringan suatu lereng (slope) biasanya didefinisikan sebagai suatu gradien. Gambar di bawah ini menunjukkan sebuah gradien 2 dalam 16, artinya 2 unit vertikal untuk setiap 16 unit pada arah horisontal. Selama kedua unit tersebut sama pada kedua arah, maka tidak ada bedanya apapun satuan panjangnya (meter atau pun kaki). Gradien tersebut biasanya ditulis sebagai 2/16.

Kemiringan lereng atau slope

Kadangkala gradien dinyatakan dalam persentase. Untuk mengkonversinya adalah mengalikan perbandingan dengan bilangan 100%, yaitu: 

2/16 x 100% = 1,25%

Untuk menentukan gradien suatu titik di jalan pada suatu peta, ukur jarak horisontal antara kontur-kontur yang berurutan pada peta dan nyatakan dalam unit yang sama seperti pada angka interval kontur. Misalnya, jika interval kontur 10 meter dan jarak yang diukur di peta antara dua kontur yang berurutan tersebut adalah 120 meter, maka gradien rata-ratanya antara dua kontur adalah 10/120 = 1/12 atau 1 dalam 12 atau 8,5%.

Untuk menentukan gradien yang paling terjal dari suatu jalan, temukan titik di mana dua kontur yang berturutan saling berdekatan, kemudian ukurlah seperti prosedur di atas.
Suatu gradien rata-rata dapat diukur dengan cara yang sama terhadap beberapa interval kontur, meskipun hal ini tidak banyak berarti kecuali ada kemiringan lereng yang konstan pada arah yang sama.

Jika dibutuhkan untuk memeriksa bahwa gradien maksimum sepanjang suatu jalan tidak melebihi 1/6, dan interval kontur adalah 10 meter, maka jarak antara kontur-kontur tadi tidak boleh kurang dari 6 x 10 = 60 meter. Tandailah pada sepotong kertas suatu jarak 60 meter pada skala peta, interval kontur dapat diperiksa untuk melihat apakah jarak pada titik mana pun lebih pendek dari jarak yang ditentukan. Jika demikian halnya maka gradiennya lebih terjal dari 1/6.




Baca Selengkapnya ....

Membaca Peta Kontur (bag. 1)

Posted by Blogger Koetai Sunday, 13 June 2010 0 comments
Pengertian Kontur

Kontur adalah garis khayal untuk menggambarkan semua titik yang mempunyai ketinggian yang sama di atas atau di bawah permukaan datum tertentu yang disebut permukaan laut rata-rata. Kontur digambarkan dengan interval vertikal yang reguler. Interval kontur adalah jarak vertikal antara 2 (dua) garis ketinggian yang ditentukan berdasarkan skalanya. Besarnya interval kontur sesuai dengan skala peta dan keadaan di muka bumi. Interval kontur selalu dinyatakan secara jelas di bagian bawah tengah di atas skala grafis.



Kontur biasanya digambar dalam bentuk garis-garis utuh yang kontinyu (biasanya berwarna cokelat atau oranye). Setiap kontur keempat atau kelima (tergantung pada intervalnya) dibuatlah indeks, dan digambarkan dengan garis yang lebih tebal. Kontur indeks dimaksudkan untuk membantu pembacaan kontur dan menghitung kontur untuk menentukan tinggi. Angka (ketinggian) kontur diletakkan pada bagian kontur yang diputus, dan diurutkan sedemikian rupa agar terbaca searah dengan kemiringan ke arah atas (lebih tinggi).
Pada daerah datar yang jarak horisontalnya lebih dari 40 mm sesuai skala peta dibuat garis kontur bantu. Kontur bantu ini sangat berarti terutama jika ada gundukan kecil pada daerah yang datar. Kontur bantu digambar pada peta berupa garis putus-putus untuk membedakan dengan kontur standar.
 
Kontur indeks dan titik-titik tinggi pada peta rupabumi skala 1:25.000


Bentuk Kontur
Bentuk suatu kontur menggambarkan bentuk permukaan lahan yang sebenarnya. Kontur-kontur yang berdekatan menunjukkan kemiringan yang terjal, kontur-kontur yang berjauhan menunjukkan kemiringan yang landai. Jika kontur-kontur itu memiliki jarak satu sama lain secara tetap, maka kemiringannya teratur.
Beberapa catatan tentang kontur sebagai berikut:
  1. Kontur adalah kontinyu (bersinambung). Sejauh mana pun kontur berada, tetap akan bertemu kembali di titik awalnya. Perkecualiannya adalah jika kontur masuk ke suatu daerah kemiringan yang curam atau nyaris vertikal, karena ketiadaan ruang untuk menyajikan kontur-kontur secara terpisah pada pandangan horisontal, maka lereng terjal tersebut digambarkan dengan simbol. Selanjutnya, kontur-kontur akan masuk dan keluar dari simbol tersebut.
  2. Jika kontur-kontur pada bagian bawah lereng merapat, maka bentuk lereng disebut konveks (cembung), dan memberikan pandangan yang pendek. Jika sebaliknya, yaitu merenggang, maka disebut dengan konkav (cekung), dan memberikan pandangan yang panjang.
  3. Jika pada kontur-kontur yang berbentuk meander tetapi tidak terlalu rapat maka permukaan lapangannya merupakan daerah yang undulasi (bergelombang).
  4. Kontur-kontur yang rapat dan tidak teratur menunjukkan lereng yang patah-patah. Kontur-kontur yang halus belokannya juga menunjukkan permukaan yang teratur (tidak patah-patah), kecuali pada peta skala kecil pada umumnya penyajian kontur cenderung halus akibat adanya proses generalisasi yang dimaksudkan untuk menghilangkan detil-detil kecil (minor).
 Berbagai kenampakan kontur


 Profil permukaan lahan dari potongan garis A-B


Kenampakan yang tidak berubah dengan penggambaran kontur adalah bukit dan lembah. Bentuk permukaan lahan tidak berubah cukup berarti meskipun ada bangunan gedung, jalan, pemotongan pepohanan (hutan atau perkebunan). Penafsiran yang benar terhadap bentuk permukaan lahan membutuhkan latihan, praktek dan pengalaman yang memadai di lapangan.

Baca Selengkapnya ....

Dolomit

Posted by Blogger Koetai Sunday, 16 May 2010 0 comments
Dolomit adalah mineral yang berasal dari alam yang mengandung unsur hara magnesium dan kalsium berbentuk tepung dengan rumus kimia CaMg(CO3)2.

Dolomit termasuk rumpun mineral karbonat, mineral dolomit murni secara teoritis mengandung 45,6% MgCO3 atau 21,9% MgO dan 54,3% CaCO3 atau 30,4% CaO. Rumus kimia mineral dolomit dapat ditulis meliputi CaCO3.MgCO3, CaMg(CO 3)2 atau CaxMg1-xCO3, dengan nilai x lebih kecil dari satu. Dolomit di alam jarang yang murni, karena umumnya mineral ini selalu terdapat bersama-sama dengan batu gamping, kwarsa, rijang, pirit dan lempung. Dalam mineral dolomit terdapat juga pengotor, terutama ion besi.

Batugamping yang sebagian unsurnya kalsium diganti dengan magnesium (proses peresapan), banyak sedikitnya magnesium akan mempengaruhi nama batuan, batugamping yang mengandung 10 % MgCO3 disebut batugamping dolomitan, bila 19 % disebut dolomit.

Dolomit berwarna putih keabu-abuan atau kebiru-biruan dengan kekerasan lebih lunak dari batugamping, yaitu berkisar antara 3,50 - 4,00, bersifat pejal, berat jenis antara 2,80 - 2,90, berbutir halus hingga kasar dan mempunyai sifat mudah menyerap air serta mudah dihancurkan. Klasifikasi dolomit dalam perdagangan mineral industri didasarkan atas kandungan unsur magnesium, Mg (kimia), mineral dolomit (mineralogi) dan unsur kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Kandungan unsur magnesium ini menentukan nama dolomit tersebut. Misalnya, batugamping mengandung ± 10 % MgCO3 disebut batugamping dolomitan, sedangkan bila mengandung 19 % MgCO3 disebut dolomit.

Baca Selengkapnya ....

Pasir Kuarsa

Posted by Blogger Koetai 0 comments
Pasir kuarsa adalah bahan galian yang terdiri atas kristal-kristal silika (SiO2) dan mengandung senyawa pengotor yang terbawa selama proses pengendapan. Pasir kuarsa juga dikenal dengan nama pasir putih merupakan hasil pelapukan batuan yang mengandung mineral utama, seperti kuarsa dan feldspar. Hasil pelapukan kemudian tercuci dan terbawa oleh air atau angin yang terendapkan di tepi-tepi sungai, danau atau laut.

Pasir kuarsa mempunyai komposisi gabungan dari SiO2, Fe2O3, Al2O3, TiO2, CaO, MgO, dan K2O, berwarna putih bening atau warna lain bergantung pada senyawa pengotornya, kekerasan 7 (skala Mohs), berat jenis 2,65, titik lebur 17150C, bentuk kristal hexagonal, panas sfesifik 0,185, dan konduktivitas panas 12 – 1000C.

Dalam kegiatan industri, penggunaan pasir kuarsa sudah berkembang meluas, baik langsung sebagai bahan baku utama maupun bahan ikutan. Sebagai bahan baku utama, misalnya digunakan dalam industri gelas kaca, semen, tegel, mosaik keramik, bahan baku fero silikon, silikon carbide bahan abrasit (ampelas dan sand blasting). Sedangkan sebagai bahan ikutan, misal dalam industri cor, industri perminyakan dan pertambangan, bata tahan api (refraktori), dan lain sebagainya.

Cadangan pasir kuarsa terbesar terdapat di Sumatera Barat, potensi lain terdapat di Kalimantan Barat, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Pulau Bangka dan Belitung.


Baca Selengkapnya ....

Tambang Terbuka (Open Pit)

Posted by Blogger Koetai Wednesday, 12 May 2010 0 comments
Penambangan dengan metoda tambang terbuka adalah suatu kegiatan penggalian bahan galian seperti batubara, ore (bijih), batu dan sebagainya di mana para pekerja berhubungan langsung dengan udara luar.dan iklim.  Tambang terbuka (open pit mining) juga disebut dengan open cut mining; adalah metoda penambangan yang dipakai untuk menggali mineral deposit yang ada pada suatu batuan yang berada atau dekat dengan permukaan.


Metoda ini cocok dipakai untuk ore bodies yang berbentuk horizontal yang memungkinkan produksi tinggi dengan ongkos rendah.  Walaupun “stripping” dan “quarrying” termasuk ke dalam open pit mining, namun strip mining biasanya dipakai untuk penambangan batubara dan quarry mining yang berhubungan dengan produksi non-metallic minerals seperti dimension stone, rock aggregates, dll.

Kegiatan penambangan ini terkadang berada di bawah permukaan tanah, bahkan kedalamannya dapat mencapai ratusan meter seperti pada tambang terbuka tembaga (copper mine) di Bingham Canyon Utah (USA).

Apabila diyakini keberadaan endapan mineral dekat dengan permukaan, hingga dapat dipastikan pemilihan metoda penambangannya adalah tambang terbuka (open pit); hanya perlu dipertanyakan tentang “economic cut off limitnya”, hingga dimungkinkan adanya perubahan metoda penambangan ke arah underground (tambang bawah tanah) bila penyebaran endapan mineral dapat menjamin.

Kebanyakan tambang batubara di Indonesia menggunakan metoda tambang terbuka, oleh karena sebagian besar cadangan batubara terdapat pada dataran rendah atau pada daerah pegunungan dengan topografi yang landai dengan kemiringan lapisan batubara yang kecil (<30°).  Untuk cebakan yang berada di bawah permukaan tetapi relatif masih dangkal, maka metoda penambangan terbuka umumnya akan lebih ekonomis dibandingkan dengan tambang dalam (bawah permukaan).  Dan bila cebakan itu berada jauh di bawah permukaan dengan bentuk yang tidak beraturan, maka mungkin penambangan dengan cara tambang bawah tanah yang masih dianggap ekonomis.

Ada kriteria yang dapat digunakan sebagai dasar untuk penentuan pemilihan apakah suatu cadangan (lapisan batubara) akan ditambang dengan metoda tambang terbuka atau tambang dalam yaitu dengan membandingkan besarnya nilai tanah penutup (waste) yang harus digali dengan volume atau tonase batubara yang dapat ditambang.  Perbandingan ini dikenal dengan istilah “stripping ratio”.  Apabila nilai perbandingan ini (stripping ratio) masih dalam batas-batas keuntungan, maka metoda  tambang terbuka dianggap masih ekonomis.   Sebaliknya apabila nilainya di luar batas keuntungan, maka metoda penambangan tambang dalam yang dipilih. 

Beberapa keuntungan yang diperroleh bila menggunakan tambang terbuka diantaranya yaitu:
1. Produksi tinggi
2. Konsentrasi operasi (kegiatan) tinggi
3. Ongkos operasi per ton bijih yang ditambang rendah
4. Kegiatan eksplorasi dan keadaan geologi lebih mudah
5. Leluasa dalam pemilihan alat gali/muat
6. Recovery tinggi
7. Perencanaan lebih sederhana
8. Kondisi kerja lebih baik /karena berhubungan dengan udara luar
9. Relatip lebih aman
10 Pemakaian bahan peledak leluasa dan effisien

Untuk dapat menentukan metoda penambangan apa yang cocok untuk diterapkan maka perlu untuk membandingkan efisiensi ekonomi dari open mining dan underground mining , terkecuali keuntungan dari salah satu metode sudah terlihat jelas.

Karakteristik dasar yang digunakan dalam evaluasi ekonomi dari tambang terbuka adalah “stripping ratio” , yaitu besarnya volume dari over burden yang digali per unit ore yang diperoleh.

Dalam penambangan open pit , perlu dihitung ongkos untuk pembuangan waste over burden dan waste dari country rock.(lihat gambar1)


Perbandingan antara waste dan ore oleh karenanya merupakan faktor kontrol dalam membandingkan ongkos penambangan ore berdasar open pit dengan metode underground.



Baca Selengkapnya ....

Pengertian Pemindahan Tanah Mekanis (PTM)

Posted by Blogger Koetai 0 comments
Pemindahan Tanah Mekanis (PTM) adalah semua pekerjaan yang berhubungan dengan kegiatan penggalian (digging, breaking, loosening), pemuatan (loading), peng-angkutan (hauling, transporting), penimbunan (dumping, filling), perataan (spreading, leveling) dan pemadatan (compacting) tanah atau batuan dengan menggunakan alat-alat mekanis (alat-alat berat/besar).

Yang dimaksud dengan tanah disini adalah bagian teratas dari kulit bumi yang relatif lunak, tidak begitu kompak dan terdiri dari butiran-butiran lepas. Sedangkan yang dimaksud dengan batuan adalah bagian kulit bumi yang lebih keras, lebih kompak dan terdiri dari kumpulan mineral pembentuk batuan tersebut.

Oleh karena perbedaan kekerasan dari material yang akan digali sangat bervariasi, maka sering dilakukan penggolongan-penggolongan berdasarkan mudah-sukarnya digali dengan peralatan PTM. Adapun salah satu cara penggolongan material tersebut adalah :

A. Lunak (soft) atau mudah digali (easy digging), misalnya :
  1. tanah atas atau tanah pucuk (top soil).
  2. pasir (sand).
  3. lempung pasiran (sandy clay).
  4. pasir lempungan (clayey sand). 
B. Agak keras (medium hard digging), misalnya :
  1. tanah liat atau lempung (clay) yang basah dan lengket.
  2. batuan yang sudah lapuk (weathered rocks).
C. Sukar digali atau keras (hard digging), misalnya :
  1. batu sabak (slate).
  2. material yang kompak (compacted material).
  3. batuan sedimen (sedimentary rocks).
  4. konglomerat (conglomerate).
  5. breksi (breccia).
D. Sangat sukar digali atau sangat keras (very hard digging) atau batuan segar (fresh rocks) yang memerlukan pemboran dan peledakan sebelum dapat digali, misalnya :
  1. batuan beku segar (fresh igneous rocks).
  2. batuan malihan segar (fresh metamorphic rocks). 
Macam-macam material ini juga akan dapat berpengaruh terhadap faktor pengisian (fill factor) dan faktor pengembangan (swell factor) dari tanah/batuan yang digali.

Baca Selengkapnya ....

Metode penambangan batubara sistem lorong panjang (longwall)

Posted by Blogger Koetai Thursday, 15 April 2010 0 comments
Metode penambangan ini adalah metode penambangan batubara yang digunakan secara luas pada penambangan bawah tanah.

Ciri-ciri metode penambangan batubara sistem longwall:
  1. Recoverynya tinggi, karena menambang sebagian besar batubara. 
  2. Permukaan kerja dapat dipusatkan, karena dapat berproduksi besar di satu permuka kerja.
  3. Pada umumnya, apabila kemiringan landai, mekanisasi penambangan, transportasi dan penyanggaan menjadi mudah, sehingga dapat meningkatkan efisiensi penambangan batubara.
  4. Karena dapat memusatkan permuka kerja, panjang terowongan yang dirawat terhadap jumlah produksi batubara menjadi pendek.
  5. Menguntungkan dari segi keamanan, karena ventilasinya mudah dan swabakar yang timbul juga sedikit.
  6. Karena dapat memanfaatkan tekanan bumi, pemotongan batubara menjadi mudah.
  7. Apabila terjadi hal-hal seperti keruntuhan permuka kerja dan kerusakan mesin, penurunan produksi batubaranya besar.
Tambang longwall harus dilakukan dengan membuat perencanaan yang hati-hati untuk memastikan adanya geologi yang mendukung sebelum dimulai kegiatan penambangan. Kedalaman permukaan batu bara bervariasi di kedalaman 100-350m. Penyangga yang dapat bergerak maju secara otomatis dan digerakkan secara hidrolik sementara menyangga atap tambang selama pengambilan batu bara. Setelah batu bara diambil dari daerah tersebut, atap tambang dibiarkan ambruk. Lebih dari 75% endapan batu bara dapat diambil dari panil batu bara yang dapat memanjang sejauh 3 km pada lapisan batu bara.

 Keuntungan utama dari tambang room and pillar daripada tambang longwall adalah, tambang room and pillar dapat mulai memproduksi batu bara jauh lebih cepat, dengan menggunakan peralatan bergerak dengan biaya kurang dari 5 juta dolar (peralatan tambang longwall dapat mencapai 50 juta dolar). Pemilihan teknik penambangan ditentukan oleh kondisi tapaknya namun selalu didasari oleh pertimbangan ekonomisnya; perbedaan-perbedaan yang ada bahkan dalam satu tambang dapat mengarah pada digunakannya kedua metode penambangan tersebut.




Baca Selengkapnya ....

Metode penambangan batubara sistem ruang dan pilar (room and pillar method)

Posted by Blogger Koetai 0 comments
Ini adalah metode penambangan batubara yang menetapkan suatu panel atau blok penambangan tertentu, kemudian menggali maju dua sistem (jalur) terowongan, masing-masing melintang dan memanjang, untuk melakukan penambangan batubara dengan pembagian pilar batubara. Metode penambangan ini terdiri dari metode penambangan batubara yang hanya melalui penggalian maju terowongan, dan metode penambangan secara berurutan terhadap pilar batubara yang diblok tadi, mulai dari yang terdalam, apabila jaringan terowongan yang digali tersebut telah mencapai batas maksimum blok penambangan. Kondisi yang menghasilkan efisiensI tinggi metode ini telah dijelaskan.

Keunggulan metode penambangan batubara sistem room dan pilar :
  1. Lingkup penyesuaian terhadap kondisi alam penambangan lebih luas dibanding dengan   sistem lorong panjang yang dimekanisasi.
  2. Hingga batas-batas tertentu, dapat menyesuaikan terhadap variasi kemiringan (kecuali lapisan yang sangat curam), tebal tipisnya lapisan batubara, keberadaan patahan serta sifat dan kondisi lantai dan atap.
  3. Mampu menambang blok yang tersisa oleh penambang sistem lorong panjang, misalnya karena adanya patahan.
  4. Dapat melakukan penambangan suatu blok yang berkaitan dengan perlindungan  permukaan (seperti perlindungan bangunan terhadap penurunan permukaan tanah).
  5. Selain itu, cukup efektif unyuk menaikkan recovery sedapatnya, pada blok yang tidak cocok ditambang semua, misalnya penambangan bagian dangkal di bawah dasar laut. 

Kelemahan metode penambangan batubara sistem ruang dan pilar :
  1. Recovery penambangan batubara yang sangat buruk. (sekitar enam puluh sampai tujuh puluh persen).
  2. Bila dibandingkan dengan metode penambangan batubara sistem lorong panjang, banyak terjadi kecelakaan, seperti atap ambruk.
  3. Ada batas maksimum penambangan bagian dalam, yang antara lain disebabkan oleh peningkatan tekanan bumi (batasnya sekitar lima ratus meter di bawah permukaan bumi).
  4. Karena banyak batubara yang disisakan, akan meninggalkan masalah dari segi keamanan untuk penerapan di lapisan batubara yang mudah mengalami terbakar.
 
Tadinya, recovery metode penambangan batubara sistem ruang dan pilar sangat rendah, namun akhir-akhir ini ada juga tambang batubara yang berhasil menaikkan recoverynya.



Baca Selengkapnya ....

Kamus Pertambangan (Z)

Posted by Blogger Koetai Sunday, 11 April 2010 0 comments

Z
angka yang tidak diketahui jumlahnya. Z juga adalah simbol belokan kekanan dan kekiri secara bergantian atau singkatan dari kata zig-zag atau zikzak.

Zat terbang
bahan-bahan yang hilang bila batubara dibakar. Zat terbang sama dengan volatila matter (lihat volatila matter).

Zona batubara
kumpulan endapan-endapan batubara yang tersebar secara lateral dan bersama-sama lapisan batuan sekitarnya dipandang sebagai satu unit atau strata geologi.

Zona penyangga 
suatu jalur lahan atau bantaran selebar sekitar 30 meter antara sungai dan kegiatan pertambangan yang tidak boleh ditambang. Zona penyangga ditujukan untuk perlindungan terhadap banjir atau kerusakan lahan diluar tambang karena erosi. Pengadaan zona penyangga sesuai ketentuan pemerintah dan atau kajian lingkungan tambang (sesuai dokumen AMDAL).

Zona besar
sesar rumit dan banyak yang terdapat pada suatu daerah (zona), misalnya dalam luasan ribuan meter per segi. Zona sesar terdapat biasanya merupakan cekungan atau depresi, breksi atau milonit.

Zone
sama dengan zona batubara (lihat zona batubara).




A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - Y - Z             

Baca Selengkapnya ....

Kamus Pertambangan (Y)

Posted by Blogger Koetai 0 comments

Y
benda-benda berbentu Y, seperti garis, pipa-pipa, jalan rel kereta api dan sebagainya. Y jugs bersrti sesuatu angka yang tidak diketahui jumlahnya.

Yardstick
tolok ukur hasil pekerjaan tambang batubara terbuka seperti nisbah kupasan.

Yellow coal
batubara kuning, sama dengan tasmanite (lihat tasmanite).



A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - Y - Z             

Baca Selengkapnya ....

Kamus Pertambangan (W)

Posted by Blogger Koetai 0 comments
Wall rock
batuan yang mengapit suatu lapisan atau vein bahan galian secara lateral.

Want
suatu zona dimana endapan batubara atau lapisan batubara menghilang karena adanya sesar normal bersudut landai atau adanya gangguan geologi lainnya seperti washout, penekanan batuan atap atu batuan lantai yang menggelembung.

Washability
sifat batubar terhadap proses pencucian atau kemampuan batubara untuk dicuci yang dapat menaikkan kualitasnya.

Washability curve 
kurva pencucian, yaitu kurva atau grafik yang menunjukkan hasil uji pencucian batubara dengan cara diambangkan dan ditenggelamkan (fload-and-sink test). Kurva-kurva ini dibuat dalam keadaan dan variabel yang berbeda-beda dan merupakan bahan yang penting untuk merancang pabrik atau mesin pencucian batubara.

Washibility test
sama dengan uji pencucian batubara (lihat uji pencucian).

Washed coal
batubara tercuci atau batubara bersih, yaitu batubara yang kotorannya telah dibuang dengan proses pencucian (proses pengolahan atau pembuangan bahan pengotor dalam media cairan berat).

Washery products 
hasil akhir atau produk yang dihasilkan oleh mesin pencucian batubara terutama adalah batubara bersih.

Washery refuse
kotoran seperti batu, tanah atau batuan yang masih mengandung sedikit batubara yang keluar dari mesin pencucian batubara untuk dibuang.

Washing
proses pencucian dengan mesin pencucian batubara yang menggunakan media pencuci cairan berat.

Washing plant
sama dengan washery (lihat washery).

Washout
massa batuan seperti serpih, lanau atau batupasir yang mengisi lekukan (berbentuk saluran) pada endapan batubara (rawa batubara) pada masa pembentukan batubara yang menyebabkan adanya bagian yang hilang berbentuk saluran pada endapan batubara.

Waste
buangan batuan, tanah atau bahan pengotor yang dipisahkan dari lapisan batubara.

Waste cofiring
pembakaran campuran batubara dengan biomassa dalam ruang pembakaran (ketel uap) sistem pembangkit listrik tenaga uap atau ketel uap industri. Bahan bakar campuran biomassa dengan batubara dipandang sebagai bahan bakar yang paling murah saat ini dan merupakan bahan yang terbarukan.

Waste dump
tempat (areal) pembuangan batuan atau tanah kupasan lapisan penutup batubara 
Ataupun batuan buangan dari kegiatan penambangan bahan galian lainnya.

Waste bar
Penahan air, yaitu tanggul, peralatan atau struktur yang dibuat diatas ataupun disekitar jalan masuk dan jalan tambang dengan tujuan menghalangi atau mengalihkan aliran air dari jalan-jalan masuk.

Water holding capacity 
kemampuan menyimpan air, yaitu nilai terkecil yang dapat dicapai oleh kandungan air dalam tanah yang mengering karena gaya berat air.

Water permit
izin pemanfaatan air permukaan atau air tanah untuk keperluan kegiatan pertambangan atau kegiatan industri termasuk untuk pemukiman.

Water table
permukaan air tanah atau garis permukaan air tanah bebas yang biasanya dianggap sebagai batas atas zona kejenuhan dalam lapisan penyimpanan air (akifer).

Weather coal
batubara coklat lapuk, yaitu lapisan batubara, singkapan batubara atau endapan batubara coklat yang telah mengalami pelapukan. Batubara ini umumnya berwarna cerah. 

Weathering zone
zona lapik, yakni zona permukaan yang terdiri dari batuan-batuan yang telah mengalami perubahan akibat reaksi kimia dari udara, air, tumbuhan dan bakteri serta dikenai oleh proses mekanika seperti perubahan suhu.

Weatering index
indeks pelapukan, yaitu ukuran penciri batubara sesuai prosedur baku laboratorium yang biasanya didasarkan atas tingkat pelapukan yang diperoleh dengan percobaan pelapukan buatan dilaboratorium (dipanaskan, dikeringkan, direndam dalam air dan dikeringkan pada suhu, kelembaban dan waktu tertentu).

Web
kedalaman atau ketebalan sekali pemotongan batubara dengan alat pemotong shearer atau trepanner pada permuka tambang batubara dalam sistem lubang buka (longwall).

Well core
inti lubang bor, yaitu conto inti yang dipotong olehmata bor dan diangkat keluar (ke permukaan)dikemas kemudian diamati dan dianalisis.

Well cuttings
hancuran batuan yang terpotong atau tergerus oleh mata bor pada pemboran dan dipompa ke permukaan untuk diamati serta dipelajari secara gologi.

Well log
Catatan atau grafik dari formasi batuan yang ditembus pada pemboran. Catatan atau grafik itu didasarkan pada pengamatan terhadap hancuran batuan dan atau conto inti dari lubang bor.

Well logging
teknik geofisika yang digunakan untuk penelitian litologi serta sifat-sifat fisika formasi batuan yang ditembus oleh lubang bor. Teknik ini dilakukan dengan memasukkan alat pengindera kedalam lubang bor dan hasil pembacaannya dicatat dipermukaan dengan alat portabel atau alat mobil. Sifat-sifat batuan yang dilog antara lain adalah tahanan listrik, sinar gamma, berat jenis, sifat magnetik, kecepatan rambat suara dan sebagainya.

Well sample
conto lubang bor, yaitu hancuran batuan hasil pemboran yang dipompakan ke permukaan untuk penelitian formasi batuan yang ditembus lubang bor.

Wet cleaning
pembersihan basah, yaiu proses pembersihan batubara dengan air dan peralatan pengering. Batuan yang dicuci pada prosesini biasanya berbutir kasar. Proses ini lebih mahal dibandingkan dengan pembersihan memakai udara.

Wheel loader
bulldozer dengan ban karet, bulldozer ini bergerak lebih cepat dan mengurangi hancuran batubara atau material lain bila dioperasikan di tempat penumpukan.

Whell excavator
alat singkup mesin atau alat penggali terutama batuan gembur atau batuan lunak yang mempunyai ban karet.whell excavator juga berarti alat gali material lunak dengan alat gali teromol berputar dan ember gali berukuran besar.

Well loader
alat muat batubara, batuan lepas atau bahan galian lain yang mempunyai ban karet. Bahan yang dimuat kedalam dump truk umumnya adalah hasil peledakan atau pembajakan (ripping).

Windrow
gundukan-gundukan material yang memanjang yang dihasilkan oleh alat-alat gali.

Windrow stockpiling 
metode pembuatan tumpukan tumpukan batubara memanjang dengan cara pencurahan batubara (dengan stacker) secara berturut-turut dimana satu tumpukan berdekatan atau kakinya saling menyinggung dengan tumpukan memanjang lainnya sehingga membentuk penumpukan menyeluruh. Tumpukan dapat merupakan hasil pencampuran atau pencampuran dilakukan dengan reclaimer dari tumpukan-tumpukan yang telah diketahui kualitasnya untuk dimuat kedalam kapal.

Worked out
habis ditambang, yakni suatu tambang atau sebagian beasr tambang yang batubaranya telah habis di tambang.

Working
tempat kerja atau sarana tambang termasuk sumuran, permukaan (level), permuka kerja, tambang terbuka atau kuari. Working juga berarti keseluruhan pelapisan-pelapisan yang digali dalam penambangan suatu lapisan.

Working cycle
siklus kerja, yakni urutan-urutan kegiatan secara penuh, misalnya untuk truk siklus kerja penuh biasanya terdiri dari pemuatan, manuver, jalan, penumpukan muatan dan kembali ketempat pemuatan.

Working pit
tempat kegiatan tambang, yakni tempat atau permuka kerja ditambang dimana batubara diekstraksi.

World coal reserves 
cadangan-cadangan batubara dunia, yaitu seluruh cadangan batubara yang dapat dimanfaatkan pada keadaan ekonomi dan teknologi saat ini.

World coal resources 
sumber-sumber batubara dunia, yaitu seluruh sumber batubara dunia yang dipandang dapat bermanfaat kepada umat manusia pada saat ini atau di kemudian hari termasuk endapan batubara yang terlalu tipis, terlalu dalam atau terlalu rendah kualitasnya untuk ditambang secara ekonomis saat ini.

World coal supply 
pasokan batubara dunia dalam jangka waktu 20 tahun kedepan yang merupan penjumlahan produksi batubara dari seluruh lapangan batubara di dunia serta pertimbangan situasi pasar lokal, dalam negeri dan mancanegara.



A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - Y - Z             

Baca Selengkapnya ....

Kamus Pertambangan (V)

Posted by Blogger Koetai 0 comments

Value
nilai atau kuat cahaya relatif atau kuat (intensitas) warna yang dinyatakan sebagai fungsi akar pangkat dua dari jumlah cahaya.

Vc
simbol atau singkatan dari volatile carbon (karbon terbang).

V-coal  
bahan mikroskopi batubara yang didominasi oleh vitrain dan clarain. Bahan ini dapat ditemukan dalam paru-paru pekerja tambang batubara dalam.

Vee
bagian tanah kupasan yang ditumpuk dekat teras yang belum digali untuk landasan kerja alat gali yang kemudian digali atau dibuang ulang.


Vegetatif cover
tumbuhan penutup permukaan, yaitu keseluruhan tumbuhan yang menutup suatu lahan.

Vein
suatu lapisan, endapan atau letakan yang tipis (sempit) bahan galian atau batuan mengandung biji berbentuk tidak teratur dan berbeda dengan formasi (batuan) sekelilingnya. Suatu lapisan tipis batubara adakalanya juga disebut vein.

Ventilated
tambang dalam yang secara terus menerus mendapat aliran udara bersih untuk membawa udara kotor, udara beracun atau udara yang mengandung gas yang dapat terbakar keluar tambang. Udara peranginan tersebut juga dialirkan atau dipompakan kedalam tambang untuk pernafasan pekerja.

Ventilator
alat-alat yang dipasang didalam tambang sebagai alat peranginan khusus kipas angin, konpresor dan kipas isap untuk mengalirkan udara segar (udara bersih) dan mengeluarkan udara kotor.

Very thick bands
lapisan atau lembaran sangat tebal, yaitu pelapisan dari vitrain pada batubara dengan ketebalan lebih dari 50 mm.

VH
singkatan dari volatile hidrogen, yakni zat terbang yang dikandung batubara.

Vibrating screen
saringan getar untuk menggetarkan, menggerakkan dan memisahkan butiran-butiran batubara atau bahan lain yang dijatuhkan keatas saringan.

Void
pori atau rongga-rongga kecil dalam batubara, batuan atau bahan lain.

Void ratio
rasio rongga atau perbandingan pori, yakni perbandingan antara isi pori dan atau rongga yang terdapat diantara butir-butir bahan dengan isi bahan padat.

Volatile combustible 
zat terbang terbakar, yaitu sebagian bahan-bahan yang dapat terbakar dari batubara yang keluar (terbang) pada pembakaran dalam wadah tertutup. Bahan tersebut terutama adalah senyawa hidrogen dan karbon.

Volatile matter
zat terbang (bahan terbang), yaitu zat atau bahan yang keluar (terbang) dari batubara yang dibakar selain dari air yang menjadi uap atau gas. Pembakaran batubara tersebut dilakukan dalam keadaan tertentu (keadaan baku di laboratorium analisis).

Volatile
bahan-bahan terbang, yaitu gas-gas seperti metan, hidrogen dan amonia yang keluar (terbang) dari batubara pada waktu pembentukan batubara dimana bahan pembentuk batubara mengalami perubahan secara kimia dan fisika. Bahan-bahan terbang juga merupakan istilah untuk gas-gas, tar, minyak yang keluar pada proses pembentukan kokas dari batubara.

Volatile displacement 
perbedaan antara jumlah zat terbang dari batubara normal (batubara biasa) dengan batubara yang mempunyai sifat-sifat fisika tertentu (batubara khusus).



A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - Y - Z             

Baca Selengkapnya ....

Kamus Pertambangan (U)

Posted by Blogger Koetai 0 comments
U
sesuatu alat, perkakas, bangunan atau belokan jalan berbentuk U. U juga sering diartikan sebagai tenaga (force) dan energi peregangan.

U-blade
singkatan dari universal blade, yaitu alat dorong dari bulldozer besar, mirip huruf U yang melebar yang dirancang untuk digunakan untuk segala macam pekerjaan pendorongan atau pemindahan tanah.

UCCW
singkatan dari utility coal combustion waste yang berarti limbah yang dihasilkan oleh pembakaran batubara pada PLTU atau pada ketel uap lainnya. Limbah ini berasal dari unsur-unsur batubara yang tidak terbakar utamanya adalah bahan-bahan mineral. Bahan-bahan ini keluar dari ketel PLTU bersama gas-gas melalui cerobong (disebut abu terbang) dan atau tidak meleleh, mengendap kedasar ketel (abu bawah) atau berbentuk lelehan dan dikeluarkan dari bawah ketel (jterak ketel).


Uji batubara
percobaan atau penilaian batubara secara teknis (tidak secara kimia) untuk menentukan sifat-sifat pembakaran, sifat pengokasan, bahan-bahan yang dapat dihasilkan dari proses pembakaran batubara dalam dapur atau reaktor khusus, sifat pencampuran dengan bahan lain dan sebagainya. Uji batubara berbeda dengan analisis batubara yang terutama dilakukan secara kimia dan mekanika.

Uji pencucian
pengujian sifat-sifat batubara untuk penentuan kelayakan batubara pada proses pencucian yang akan mempertinggi kualitasnya.

Ujung batubara
bidang atau permukaan lapisan batubara yang terbuka menurut ketebalan atau jenis lapisan batubara.

Ultimte analysis
sama dengan analisis ultimat (lihat analisis ultimat).

Umur
jangka waktu atau zaman pengendapan batubara dalam sejara geologi yang diberi nama. Unit waktu yang lebih pendek (lebih kecil) seperti ear dan sistem biasanya dikelompokkan ke dalam unit waktu yang lebih besar.

Umur batubara
umur atau zaman pembentukan batubara karboniferous.

Unconfined compression test
uji gerus batuan atau tanah tanpa penahanan (ujung-ujungnya) secara lateral.

Unconvined compressive strength
kekuatan batuan atau tanah untuk menahan gerusan (kekuatan maximum sebelum hancur pada uji gerus).

Unconformity
ketidakselarasan, yaitu permukaan tererosi atau permukaan suatu pelapisan yang bergeser dan memisahkan pelapisan berumur lebih muda dengan batuan lebih tua.

Uncovered
lapisan batubara yang telah terbuka (terkupas) karena kegiatan pembuangan tanah (batuan) penutup.

Uncovering
pekerjaan penggalian dan pembuangan tanah (batuan) penutup lapisan batubara pada tambang batubara terbuka.

Underburden
sama dengan seat clay (lihat seat clay).

Under clay
sama dengan seat clay (lihat seat clay).

Underclay limestone
lapisan tipis batu gamping air tawar yang tidak terfosilkan yang terlatak dibawah lapisan-lapisan batubara (biasanya berhubungan dengan underclay).

Undercut
pemotongan batubara dibagian bawah agar peledakan diatasnya memberikan hasil peremukan batubara lebih baik . undercut juga berarti menambang dari bawah suatu panel atau blok batubara atau bahan galian lain ditambang dalam.

Underground exploration
penyelidikan atau eksplorasi (tambang) dalam yang dilakukan dengan penggalian lubang atau terowongan dan pemboran lubang eksplorasi untuk mengetahui lanjutan, penyebaran serta ketebalan lapisan-lapisan batubara atau endapan bahan galian lainnya.

Underground mine
pertambangan dalam, yaitu penggalian atau ekstraksi batubara atau bahan galian lainnya dibawah permukaan, yaitu dari lapisan-lapisan endapan yang berada diantara lapisan-lapisan batuan dengan sistem penambangan antara lain seperti room dan pillar, lubang buka (long wall), ambrukan atau dengan gasifikasi in-situ. Jalan masuk ketempat ekstraksi bahan galian berharga adalah sumuran tegak, sumuran miring atau terowongan dari sisi bukit yang diperlengkapi dengan lift tambang, rel atau gerobak katrol.

Underground opening
bukaan tambang dalam, yaitu penggantian lubang-lubang bawah tanah (dibawah permukaan) untuk tujuan penambangan bahan galian.

Underpass
jalan tambang yang dibuat dengan persimpangan berada dibawah jalan umum dengan membuat terowongan dibawah jalan umum yang telah ada sebelumnya. Underpass biasanya dibuat untuk mencegah kecelakaan dan melancarkan lalu lintas umum serta jalan angkutan tambang.

Undersoil
tanah atau bahan lepas yang terletak langsung dibawah lapisan batubara.

Undisvovered
sumber yang belum ditemukan, yaitu sumber-sumber batubara asli yang secara geologi berada dalam jumlahnya berada pada tingkat keyakinan paling rendah. Sumber-sumber ini dibagi dalam dua kategori, yaitu sumber hipotetik dan sumber spekulatif. Pada wilayah yang mengandung sumber-sumber tersebut tidak ada pengambilan conto batubara atau pengukuran ketebalan batubara.

Undisturbed land
tanah tidak terganggu, yaitu lahan yang tidak terganggu oleh kegiatan pertambangan.

Unit coal
batubara murni, yaitu batubara yang bebas kelembaban (kadar air) dan bebas bahan mineral yang dihitung dari hasil analisis. Unit coal biasanya dinyatakan dengan persamaan : unit coal = 1 – (w + 1.08 A + 0.55 S) dimana  W adalah kelembaban/air, A = abu, S = belerang.

Unit of coal
unit (ukuran) batubara, yaitu jumlah batubara yang akan diambil conto yang mewakili. Batubara sejumlah tersebut dapat merupakan muatan satu kapal, satu truk atau satu gerbong.

Unit weight
berat perunit atau berat padatan per unit isi dari jumlah masa. Unit weight basa adalah berat padatan tambah air per unit dari jumlah massa.

Unscreen coal
batubara tanpa saring, yaitu batubara dengan ukuran butiran yang tidak dibatasi.

Unstable protobitumen
protobitumen tidak stsbil, yaitu batubara protobitumen yang terbentuk dari bahan minyak dan lemak tumbuhan serta hewan tertentu yang memperlihatkan perubahan sifat-sifat pada tahap awal pembentukan batubara.

Unsuitable land
tanah terbatas, yaitu lahan yang tidak diizinkan digunakan untuk ditambang batubara terbuka karena ketentuan tata ruang, ketentuan kehutanan, sumber-sumber alam yang dibatasi pemanfaatannya atau dicadangkan untuk lahan pertanian.

Upgrade
perbaikan mutu, yakni proses tertentu terhadap batubara untuk meninggikan nilai ekonominya (nilai jual).

Upland
lahan tinggi, yaitu lahan yang berada di tempat relatif tinggi dibanbdingkan dengan lahan-lahan luas di sekitarnya. Istilah ini digunakan untuk membedakan posisinya dengan lembah dan dataran ditampat rendah. Upland dapat juga disamakan engan plateau. Daerah-daerah lahan tinggi sering diartikan berbeda dengan lahan tinggi. Daerah lahan tinggi adalah lahan yang terangkat diatas lahanrendah sepanjangsungai atau diantara bukit-bukit.

Upper heating value
sama degan gross caloricic value (lihat gross calorivic value). Istilah ini juga berarti nilai kalori dalam kondisi laboratorium

Utilization
pemanfaatan yang berarti kegiatan untuk menggunakan batubara yang diubah bentuknya dengan proses tertentu seperti untuk menghasilkan panas, listrik, bahan-bahan kimia dan sebagainya.




A - B - C - D - E - F - G - H - I - J - K - L - M - N - O - P - Q - R - S - T - U - V - W - Y - Z             

Baca Selengkapnya ....